Home

Amsterdam Junkies Daily

Hari-hari yang dilalui pelajar yang terdampar di Amsterdam, dan kadang jadi junk

The Amsterdam Junky

View

Navigation

Advertisement

May 13th, 2004

Pamit

Add to Memories Tell a Friend
Kulo bade pamit rumiyin, mau mohon diri, saya pengen transmigrasi ke modblog. Disana lebih flexible daripada di Live Journal. Impulsive decision lagi, ngga survey dulu, barangkali ditempat lain masih ada yang lebih bagus, tapi rasanya modblog ini cukup untuk memenuhi kebutuhan curhat, dan iseng nulis. Namanya juga bisa wongiseng.modblog.com, lebih gampang daripada link ini (sebenernya paling puas di hotspotsnya renatha, tapi nanti malah ngerepotin renatha aja). Walaupun serba table based, dari contoh-contoh template yg ada gak ada yang css only, tapi lebih flexible dan comfortable, daripada di LJ ini kalo liat comments tampilannya langsung culun.

Entries yang disini bisa di import kesana, tapi sayang commentsnya ngga bisa ikut. Jadi untuk beberapa orang selain gue yang baca jurnal ini, dan sempat komentar mohon maaf, komentarnya ditinggal disini, dan saya pindah ke http://wongiseng.modblog.com . (Bisa diitung sih yg kesini, Renatha, Enda, Nita, LC, Iin, gue, dan gak adalagi). Thanks guys for used to read incoherent stuff here, sekarang gue pamit lagi. Amit mundur.

Regards,

Amsterdam Junky

May 8th, 2004

Love

Add to Memories Tell a Friend
Pride will give us power to do things well,
but it is love that drives it to perfection.

-- Anonymous, random quote dari hp94 --

Pendek, tapi kalau direnungkan sebenarnya kalimat diatas ini dalam maknanya. Melihat kebelakang, apa aja yang sudah dilakukan selama hidup ini, ternyata ego dan pride, memang bisa memaksa orang untuk melakukan banyak hal. Demi menjaga pride dan ego, menjaga citra diri yang selama ini telah terbentuk, yang menuntut pengakuan dari orang lain. Tapi hasilnya hanya kepuasan semu. Kepuasan yang sangat dipengaruhi oleh tanggapan orang lain terhadap apa yang dikerjakan, kepuasan yang bisa berubah menjadi kekecewaan dalam waktu singkat.

Sementara hal-hal yang dilakukan karena kecintaan terhadap apa yang dikerjakan, tanpa memikirkan bagaimana nanti hasilnya, memang tidak setiap saat menghasilkan kesempurnaan. Tapi lebih berpeluang untuk menuju ke arah sana, dibandingkan dengan apa yang dikerjakan karena pride dan ego. Hal-hal yang dilakukan karena kecintaan terhadap apa yang dilakukan, tidak membutuhkan affirmasi atau pengakuan. Apa yang dilakukan mungkin tidak memberikan hasil yang berarti. Tapi hasil, bukanlah pertimbangan bagi orang yang melakukan apa yang dilakukannya, karena cinta.

Masih banyak hal lain yang mendorong orang untuk melakukan apa yang dia kerjakan, diluar ego, pride, dan cinta. Nafsu misalnya, sangat bisa mendorong setiap orang untuk melakukan banyak hal. Nafsu biasanya mendorong orang untuk mengerjakan hal-hal yang dia senangi, tapi bisa juga mendorong orang untuk mengerjakan hal-hal yang tadinya dia benci, yang sebelumnya tidak terpikir untuk dia lakukan. Seperti yang pernah tertulis di literatur dari jaman ke jaman, nafsu ini sering diibaratkan sebagai api, sebagai mesin pendorong yang sangat kuat, sebagai layar penangkap angin, atau malah sebagai kuda penarik kereta, yang dengan kekuatannya bisa membuat orang yang mengikutinya kehilangan kendali.

Orang-orang yang ambisius, yang hidupnya penuh dengan tujuan, obsesi, segala keinginan yang harus dicapai, menggunakan nafsu ini sebagai pendorong. Diantara mereka ada yang berhasil menggunakannya sebagai api untuk membakar habis semua ambisinya, menggunakannya sebagai layar untuk menangkap angin dan mendorong laju biduk hidupnya, atau menggunakannya sebagai kuda yang menarik kencang kereta hidupnya, tanpa pernah kehilangan kendali.

Tapi sayangnya tidak semua orang bisa berhasil berteman dengan nafsu. Ada saat dimana api itu akhirnya membakar diri mereka sendiri menjadi abu, ketika apa yang diinginkan tidak tercapai. Ada saat dimana angin bertiup terlalu kencang, merobek layar dan menghempas perahu ke batu karang, sampai akhirnya kandas. Ada saat dimana orang kehilangan kendali, dan kuda-kuda nafsu itu membawanya ke tempat yang semula tidak diinginkannya.

Hanya malaikat yang bisa memadamkan api dengan sepenuhnya. Sementara manusia, paling jauh hanya bisa meredupkan api ini, atau menjauhkannya dari bahan-bahan yang berpeluang untuk membuatnya jadi makin berkobar. Beruntung sekali mereka yang bisa mengendalikan nyala api ini, sekedar hanya untuk menjadi api redup yang masih bisa memberikan kehangatan.

Lebih beruntung lagi mereka yang bisa mengganti api ini dengan cahaya cinta. Cahaya yang sumbernya bukan dari api, tidak membakar, tapi menerangi jiwa. Kalau ada cahaya cinta yang bersumber dari dalam jiwa, cahaya ini bisa menerangi dan membuat apa yang dikerjakan menjadi suatu kenikmatan. Kerja menjadi sumber kebahagiaan, yang timbul sebagai cerminan dari sinar, yang terpancar dari dalam jiwa.

Seandainya bisa punya sumber cahaya seperti itu, sepertinya orang akan tidak butuh lagi mahkota yang dibangun dari pendapat orang disekitarnya, mahkota kosong, bangunan rapuh yang bisa runtuh dalam sekejap yang sering dibangun oleh pride. Orang tidak lagi mencoba membuat bangunan hidup sempit yang hanya bisa dihuni satu orang, tidak menyisakan tempat bagi orang lain, yang diingini oleh ego. Orang tidak perlu lagi mencoba untuk memuaskan api nafsu yang tidak akan pernah puas, walaupun seumur hidup orang mati-matian mencari bahan yang bisa memuaskannya, api itu hanya akan bertambah besar. Cukup dengan satu cahaya jernih dari dalam, mungkin orang akhirnya bisa merasakan kedamaian dalam hidupnya.

May 7th, 2004

Volunteer terpaksa

Add to Memories Tell a Friend
DAS2 (distributed ascii supercomputer) yang di Amsterdam dapet kiriman upgrade myrinet card dari California, udah 3 minggu lalu. Orang yang mestinya maintain network ini lagi liburan jadi belum dipasang-pasang, udah gitu upgrade ini kalo ngga segera dipake bakalan ditarik balik sama si vendor Myrinet. Ada batas waktunya, dan minggu ini terakhir card itu harus dipasang atau dibalikin. Sebelum nanya ke gue atau ke si Dmitry dan Vladimir, agen-agen KGB yang sama-sama terperangkap di Belanda (bisa masuk gak bisa keluar karena ijin tinggal gak jadi-jadi), oom Adam udah langsung menawarkan "I have some guys who would volunteer to do the job ". Volunteeer huh ? abis bilang gitu baru ngasi tau gue, Dima ama Vlad, dasar. Si Vladimir beruntung dia ada janji ama polisi, minta return visa, pengganti ijin tinggal tadi biar dia bisa ke Rusia dan balik lagi. Akhirnya tinggal gue ama si Dima yang jadi korban.

Pas dikasi tau mesti ganti network card, gue sih ayo-ayo aja, ngga nyadar kalo cluster supercomputer gini ternyata rumit abis cabling di belakangnya. Untung di Amsterdam cuma ada 32 node, kalo 72 yang kaya di Vrije Universiteit lumayan juga mabok. Alhasil, seharian dari pagi sampe jam 4 sore berkutat sama kabel-kabel di belakang si DAS ini. Dinomerin sih iya kabel mana harusnya kemana, tapi dari nomer-nomernya udah banyak yang ngga matching.

Akhirnya karena takut keliru ya diganti satu-satu aja, copot satu node, ganti cardnya, pasang balik. Jadi kabelnya gak bakalan keliru. Masalahnya kabel dibelakang ini ngga cuma myrinet, ada yang ethernet biasa untuk service, masih ada lagi yg lain-lain lah ... gak tau juga gue, pak jokatz atau melby lebih tau kali. Seinget gue kemaren ada 9 kabel yang harus dibongkar pasang untuk setiap node. Entah yang mana untuk apa ngga tau. Sampe lunch dapet 16 biji, si Dima komentarnya cuma "We managed to destroy half of it, lets do the rest after lunch, I am sure that it will not work again after we finished". He..he..he... bt-bt gitu tapi si Rusia ini semangat banget dan pengen cepet kelar. Waktu oom Adam dateng dan ngambil foto-foto ini http://www.science.uva.nl/~wibisono/foto/Das2-Myrinet-Upgrade.html gue bilang, "Don't take my picture until we know its working again, I don't want any evidence " :D

Untungnya pas kelar jam 4 itu, di check sama adminnya, fs2.das2.nikhef.nl udah idup lagi, node 200 sampe 231 hidup, jadi selamat lah, dan gue berani masang foto diatas. Salah satu cluster tercepat di Belanda, seharian dioprek dan nasibnya ada ditangan agen KGB & oknum dari Indo.

April 28th, 2004

Ha..ha..ha..ha...

Add to Memories Tell a Friend
Barangkali sebenernya hari ini gue agak upset. Cuman mau terus-terusan kesel bosen sendiri, jadinya mendingan ketawa-ketawa sendiri. Sepertinya kesel sekali dan sebal sendiri dengan apa yang terjadi ini ngga ada gunanya. Emang apa yang membuat kesal ? Pertama kali mungkin masalah meeting tadi, yang pertama dibahas adalah research info pages yang pake wiki-wikian. Katanya tidak secure dan dianggap tidak berguna. This is nothing, it is not secure and too complicated to use.

Ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha..

Gue ketawa aja ..... karena apa yang gue buat disitu sebenernya hanya memenuhi permintaan orang itu juga, yang akhirnya malah bilang apa yang gue buat itu tidak berguna. Last meeting kemaren masih ada di minutesnya bahwa dia minta gue "make something like what Arnoud did". Gue udah bikin dan sepertinya yang gue bikin menurut gue malah udah mendingan, tapi ya sudah .... oom Adam bilang impressive, Vlad ama Dmitry bilang useful tinggal diisi sama-sama, cuma si dodol satu itu bilang ini ngga bisa dipake, ngga aman dan terlalu susah. Emang harus maklum ada orang yang agak bloon. Walaupun dia decision maker, tetep bisa diliat ntar orang masih pada make atau ngga. Kalo emang ngga ada yang make, paling ngga masih bisa kepake buat gue sendiri.

Ketawa aja lagi : Ha..ha..ha..ha..ha..ha.ha ....

Terus sekarang monitor datar yang tadinya gue incer malah keduluan ama mahluk di depan gue. Dia denger kemaren pas oom adam bilang gue mau dikasi monitor flatnya orang yang pindah ke tempat lain, rupanya dia buru-buru ngontak londo-londo admin dan mesen monitor itu buat dia ...

Ha ..ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha.ha..

Ketawa lagi aja Soooon .... kok bisa-bisanya mereka mau mencoba membuat elu kesel. Opini, kelakuan orang, dan hal-hal yang terjadi diluar elu ngga boleh jadi trigger yang menentukan feeling. Orang ngga bisa sedih kalo dia ngga membiarkan dirinya sedih. Orang orang itu sebenernya hanya berusaha untuk menyenangkan diri mereka sendiri. Kebetulan aja kelakuan-kelakuan itu membuat gue sempet agak suntuk. Tapi sekarang gue mau ketawa aja ...

Ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha..ha....

April 27th, 2004

What tests said.

Add to Memories Tell a Friend


Baru tau setelah liat postingnya enda tentang ticle yang tadinya dikenal dengan eMode, bahwa ternyata selama ini test-test yang pernah gue ikutin disimpen di database mereka. Aneh-aneh hasilnya, tergantung dengan kondisi saat gue lagi ngambil test itu. Taun 2001 atau 3 tahun lalu sering banget gue ikut test ini, mungkin masih mencari bingung dengan jati diri, lama-lama males, sekarang Jati-nya malah di Irian . Ini beberapa hasil yang masih disimpen disitu :


March 18, 2001 Are You Millionaire Material?

less millionaire materialmore millionaire material


Ever thought about buying an SUV and joining a tennis club? You should, because you were made for the elite. We can tell that you enjoy many of the finer things in life, but for some reason you just can't make the leap to "millionaire material." Sure, that's a step down from the top of the money pile, but it's probably all for the best. Why? Perhaps because, when it comes down to it, you enjoy fun more than money. Cash is all well and good, and we can tell that you're pretty good at saving your dough when you put your mind to it, but you'd rather spend time outdoors, hang out with friends, or plan your next big trip than drool over your bank balance. After all, what's money for if you can't enjoy it?

:: Hmmm ... just can't make the leap to the millionaire material, enjoy lifes too much nih, ya wis gak-papa, yang penting happy. Lagian gue punya banyak temen yang kayanya bakalan jadi millionaire he..he..he... ::



March 27, 2001 Classic IQ Test

Congratulations, Wibisono!
Your IQ score is 135
This number is the result of a formula based on how many questions you answered correctly on Tickle's Classic IQ test. Your IQ score is scientifically accurate;
During the test, you answered four different types of questions — mathematical, visual-spatial, linguistic and logical. We were able to analyze how you did on each set of those questions, which reveals the way your brain processes information.

We also compared your answers with others who have taken the test, and according to the sorts of questions you got correct, we can tell your Intellectual Type is a Precision Processor.
This means you're exceptionally good at discovering quick solutions to problems, especially ones that involve math or logic. You're also resourceful and able to think on your feet. And that's just some of what we know about you from your test results.

:: he..he..he... lumayaan padahal pas test di psikolog jalan gajah mada cuma 125. ::



March 27, 2001 The Identity Test

The test you've just taken is a short version of the Five Factor model of identity. Among psychology experts, this approach has become broadly accepted for its accuracy and consistency. The five dimensions in this model give a complete description of your personality traits: Openness to Experience, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness and Negative Emotionality. Read below to see your scores and understand what they mean.

less curiousmore curious

Openness To Experience

Your high score in the Openness category means that you probably have a strong creative streak. Your broad intellectual curiosity and your interest in the various arts set you apart. Some people may consider you somewhat of a dreamer, and your taste for variety often means moving quickly on to the next experience. This tendency makes you appear a bit flighty and inconsistent. But these elements of your personality simply reflect a character full of new ideas and charged with emotions.

less focusedmore focused

Conscientiousness

Your medium score in the Conscientiousness category means that you have achieved a solid balance in your outlook towards responsibility. You are probably somewhat organized, with a little room for improvement. Your priorities probably reflect a mix of work and play. Thoughtfulness characterizes your thinking style, so you give gravity to important decisions without making a big deal out of minor issues. You are probably serious about achieving success, but do not feel completely driven by this motivation. All in all, you've got a very healthy perspective on work and duty.

less extravertedmore extraverted

Extraversion

Your medium score in the Extraversion category defines your social identity. You are probably comfortable in either a crowd or by yourself, and spending time alone or with company is equally enjoyable. When among others, you tend to stand in the foreground, although you may not always wish to take the position of a leader. Instead, you seem to prefer moving between the role of leader and follower, as the situation requires. You probably keep a moderately active social life; you're generally on the lookout for excitement, but certainly don't require it. You tend to keep a fairly positive emotional outlook, and people can usually count on your for some good cheer.

less adaptivemore adaptive

Agreeableness

The Agreeableness category refers to your social disposition. Your medium score indicates someone who balances the priorities of your own inner voice with the needs of others. You tend to be concerned with the harmony of the group, while maintaining a certain independence. Depending on the situation, you might adopt a stance that defers to the wishes of others, or else assert your own individuality. In this way, you have a great deal of tact, and believe in the situational equality of people. You probably have an approachable and kind personality. People probably admire you for your ability to speak your mind when appropriate.

less reactivemore reactive

Negative Emotionality

Negative Emotionality refers to your emotional reactivity. Your medium score means that you're someone who negotiates your emotions depending on your situation. Sometimes you may feel quite sensitive and emotional, while other times you may remain resilient to outside pressures. This quality of adaptation best describes your emotional character. You maintain a rational outlook, which is moderated by feelings. For example, you can sometimes feel sad, stressed, worried or embarrassed under the weight of a situation, but you are able to act quite calm and reserved, without yielding to the stress. Responsive, without being overly reactive, is the best way to describe you.

:: Rational but moderated by feeling, rasanya banyakan pake feeling daripada rasional sebenernya gue ... ::



April 11, 2001 What breed of dog are you.

Wibisono, you're a German Shepherd!
No bones, about it, you're a loyal, hard-working German Shepherd. Dedicated and always low-maintenance, people flock to you — they know they can count on you to get any job done, and done well.

:: Low maintenance, emang dari dulu juga doyanannya tahu jadi murah biaya hidupnya. ::



June 1, 2003. The Freud Test.

Wibisono, Freud would say your strongest unconscious conflict stems from events that happened when you were a Toddler.

He would also conclude that relative to others, your personality today is moderately affected by the events of your childhood. It appears that your biggest unconscious conflict that still afflicts you stems from what Freud defined as the anal stage of development that occurred when you were between a year and a half and three years old. Freud would say that this conflict can manifest in your personality by giving you a tendency to be unusually disorderly or messy, or "expulsive." You may also harbor a strong rebellious streak. This normally happens when parents neglected toilet-training and gave too much control to a child and the child naturally reacts by exerting their power and indulging their desires.

:: Ooo sekarang jorok dan ngga pernah rapi itu karena pas toddler kebanyakan diatur-atur ? ::



April 27, 2004 Original InkBlot Test


Wibisono, your subconscious mind is driven most by Imagination

You have a deep desire to use ideas to change the world around you. This drive influences you far more than you may realize on a conscious level.
You love to brainstorm and imagine new possibilities. The world is a fuller, richer place because you can contribute new ideas to any experience. Your natural curiosity inspires those around you and encourages them to come up with ideas they wouldn't have discovered without your help.
Your psyche is very rich; the more you learn about it, the more you will understand who you really are.

:: Ya emang tukang ngalamun dan ngayal .... but changing world the around ? mosok iyo ... yang ada manut aja gue mah ...::


April 25th, 2004

Ngga bisa.

Add to Memories Tell a Friend


Dulu pernah baca di komik kungfu boy, Chin Mi entah seri yang keberapa, ada cerita tentang jangkrik. Dua jangkrik yang masih sama-sama sehat, dan masih kecil ditangkep. Yang satu dimasukin dalam kandang yg tingginya cuma 15 senti, yang satu dibiarin di lapangan bebas (tapi ditandain kali yah, jadi ketauan yg mana jangkriknya). Setelah beberapa lama, dan udah sama-sama besar, jangkrik di dalam kotak dikeluarin.

Ternyata kalo diliat loncat-loncatan si jangkrik ini ngga pernah bisa lebih tinggi dari 15 senti. Sementara jangkrik yang diluar kotak itu bisa meloncat jauh lebih tinggi dari jangkrik dalam kotak. Kalo ditanya sama jangkrik yg diluar kotak, si jangkrik yang didalam kotak juga sejujurnya akan bilang bahwa dia ngga bisa ngeloncat lebih tinggi dari itu. Dia ngga bohong, sepengetahuan dia memang ngga bisa lebih dari itu, karena yang dia tau selama hidup di dalam kotak, loncat ya emang cuma bisa setinggi itu.

Dari cerita ini, waktu seseorang bilang bahwa dia ngga bisa mengerjakan sesuatu, kadang perlu dilihat kembali. Jangan-jangan dia senasib dengan jangkrik dalam kotak tadi. Apa ya bener orang ini memang ngga bisa, atau sebenernya cuma merasa ngga bisa. Mungkin ini terjadi karena dia ngga tau bahwa ada potensi dalam dirinya yang selama ini tidak pernah tergali, karena selalu terbatasi oleh lingkungan tempat hidupnya.

April 17th, 2004

Bengong

Add to Memories Tell a Friend
Sabtu ini gue mo ngapa-ngapain males, dari kemaren sih sebenernya. Lente kribbols, spring fever. Cuaca cerah banget, membuat gue jadi pengen menikmati cuaca aja. Puas dengan duduk-duduk di kafe yang ada kursinya diluar (biasanya yg didalem sumpek abis, tipikal kafe Belanda), milih yg didepannya ada view kanal bagus, terus nongkrong sambil bengong, ditemenin 234 filter kiriman pak Lurah Erwan.

Abis mo ngapain lagi, maen sama anak-anak yang masih kecil-kecil, masih muda, masih single semua, mostly concern sama well being dan their own happiness, gak terlalu banyak mikir orang lain yg jd tanggung jawab mereka, dan masih pada dasarnya pengen menikmati hidup, kok udah ngga jaman lagi sepertinya.

Gue sebenernya belum terlalu tua, tapi sudah jadi bapaknya Nanta. Bapaknya nanta ngga boleh macem-macem lagi sekarang. Kalo memang ngga ada yang maen ke koestraat untuk ngobrol-ngobrol ya sudah, bengong aja menikmati cuaca sendirian, ngga dijamin besok bakalan gini lagi cuacanya. Apa mau ngerjain kerjaan lagi ? Wah nanti aja kalo ngga weekend. Besok minggu juga paling udah mulai puyeng lagi mikir gimana memenuhi modifikasi yg diminta pak Adam. Weekend gini dinikmati aja dulu, tanpa beban kerjaan, sebisa mungkin dilupakan dulu. Sigh.

Tapi jadi ngga tau nih mau ngapain lagi. Harusnya sih benerin sepeda, yang udah entah dari kapan rusak ngga dibener-benerin dan bikin pengeluaran strippen kaart jadi melunjak. Ada sepeda yang udah dicolong ban depannya sama orang, sekalian aja ban belakangnya gue ambil apa yah ? kayanya dia juga udah pasrah sama tu sepeda ngga berusaha untuk memperbaiki lagi.

Tapi kalo siang-siang gini nyolong ban sepeda, ya ngga enak juga. Dasar junkies. Gimana ya ? salah gak kalo benda yg udah terlantar itu gue colong lagi ban belakangnya. Dulu waktu sepeda gue ban depannya di colong juga gue biarin aja di Amstel Stasiun, ngga gue bener-benerin lagi, dibiarin terpuruk disana. Ini karena beli ban itu bisa sama harganya sama sepedanya. Maklum, sepeda itu juga dulu dapetnya dari junkies di atrium.

Gak ada bahan gini mau nulis, jadi ya isinya ngga jelas. Mungkin emang gak bakat nulis kali ya gue ? udah maksa-maksa nyoba nulis, jadi nya malah ngga karu-karuan kaya gini. Bodo ah ... at your own risk. Kalo pada sebel kan paling ya ngga dibaca.

Ya udah ... sekarang ngapain enaknya ? Kadang gue suka bingung sama orang yang selalu sibuk dan penuh dengan keinginan. Orang yang ngga pernah bingung mo ngapain dan akhirnya bengong kaya gue sekarang. Mereka selalu punya jadwal, acara ngapain, terus keinginan untuk travel dan mengunjungi tempat yang mereka belum pernah kunjungi. Mumpung lagi di eropa katanya. Padahal ya sama-sama aja sebenernya.

Yang diliat itu juga nanti gitu-gitu aja. Yang bikin penasaran sebenernya bayangan tentang tempat-tempat itu sebelum didatengin. Liat aja fotonya lah, bayangin lagi disana, inget-inget bener bayangan ini, ngga perlu didatengin bener, paling nanti efeknya sama dengan kalo udah kesana, tinggal kenangan, yang satu dikarang dan dibikin, yang satu emang pernah terjadi. Tapi kalo ada yang bayarin dan bisa pergi-pergi gratis sih ya ngga masalah. Kalo sampe harus nabung bertaun-taun untuk travel gitu kok ya males.

Tapi ada yang bikin sirik, diantara orang yang ngga pernah bengong itu. Ada yang gak bengong karena selalu ada sesuatu yg bikin dia asik, ngoprek ini itu, atau bikin ini itu. Nasibnya bagus emang orang-orang yang kreatif ini. Lebih sirik lagi kalo kreatifitasnya itu menghasilkan duit. Waah ... sebenernya kerja, tapi menikmati apa yang dikerjain, sehingga ngga kerasa kerja. Weekend gini, kalo ngerjain sesuatu yg emang mereka seneng juga gue rasa mereka gak bakalan keberatan. Mau dooong .... ada ngga yang mau membayar gue untuk bengong, ngerokok, ngelamun, makan, mikir dan tidur.

Makin gak jelas, lagi blank nih ... mungkin daripada nulis mendingan bengong lagi ajalah (padahal ada juga yg daripada bengong mendingan nulis, lucu-lucu nih dia tulisannya.).

April 10th, 2004

Martabak Spesial

Add to Memories Tell a Friend


Ini nasib orang yang ngga meriksa tanggalan dan ngga nyadar kalo liburan paskah sekarang berarti long weekend, Jum'at libur dan senen libur. Jum'at, Sabtu, Minggu, Senen libur dan saya baru nyadar hari kamis, pas ditanya sama pak Adam, besok mau ngapain, lho heh emang ngapain ? besok libur .. ooo ....

Akhirnya karena ngga punya rencana apa-apa ya jadinya gak jelas begini. Untung mas Anis masih menampung refugee, saya masih boleh dateng kerumahnya, menikmati gulai nangka dan ADSL nya yang 24 jam. Jadi bisa menghibur diri, dan meliat-liat apa yang terjadi lewat internet.

Saat nulis sekarang ini sudah 64 juta suara dihitung oleh KPU. Empat peringkat atas masih didominasi partai lama yang mungkin memang sudah punya fixed voters, atau mungkin punya basis massa tradisional. Yang agak menghibur adalah peringkat 5 s/d 7, Demokrat, PKS, dan PAN. Masing-masing dapet suara sekitar 4 juta an, dengan presentase antara 6 sampai 7 persen, jadi kalo bertiga digabung kira-kira 20%. Sementara peringkat 8-10 baru dapet suara 2% an, pak Yusril, pak Kyai Z. MZ, sama mbak Tutut. Mungkin akhirnya tiga partai yg disebut belakangan ini bisa memenuhi batas 3 persen.

Sepertinya peta peringkat sekarang ini sudah bisa memberikan gambaran hasil akhir. Barangkali tidak akan ada banyak perubahan posisi, sebenernya beberapa hari terakhir peringkatnya ya begini-begini saja. Ada juga sih yg berubah, itu PIB tadinya no 24 jadi no 23 sekarang, pak Syahrir masih tidak laku ternyata. Lihat hasil gini kok pengen banget rasanya 4 partai di peringkat pertama itu dianggap tidak ada, dan dilupakan dulu saja. Sepertinya partai-partai lama dan besar ini masih membawa trauma masa lalu.

Pengennya kondisi bangsa yang memprihatinkan saat ini segera berakhir. Dengan masih dominannya empat partai besar yang basis masanya memang udah terbangun sejak jaman orde baru, sejak zaman kegelapan, harapan untuk berakhirnya kondisi yg memprihatinkan menjadi terasa sangat jauh dari kenyataan. Hiks.

Pengennya bangsa Indonesia udah melangkah ke masa depan, tidak stuck dengan apa yang sudah ada sekarang, dan jadi bangsa yang maju dan punya martabat. Martabat spesial deh jangan martabat telor setengah mateng yang telornya sudah busuk. Mulai ngga jelas ini tulisan, excusenya karena sekarang udah jam 3.26 am waktu Jan Pieter Huystraat, rumah mas Anis. Mungkin jam livejournal ini nanti bakalan ngaco. Tapi kalo diterusin besok-besok biasanya udah males untuk nulis lagi.

Ya itu, berhubung sekarang laper, dan udah lama ngga makan martabak, saya jadi pengen makan martabak spesial, yang ada di depan stasiun kereta api Bandung. Masih belum ada duanya. Lho kok jadi kesana, tadi nulis apa ? martabat bangsa. Iya, gimana mau membangun bangsa yang bermartabat kalau bahan bakunya sudah punya riwayat yang buruk ? sama seperti berusaha membuat martabak spesial dengan bahan-bahan yang sudah busuk tadi.

Bayangin betapa frustasi dan sedihnya tukang martabak di depan stasiun kereta Bandung tadi, kalo dia harus bikin martabak spesial dari bahan-bahan yang udah ketauan busuk. Gimana dia bisa berharap martabaknya akan jadi sesuatu yang spesial ? mana mungkin martabaknya laku dan membuat saya kangen dengan bahan baku seperti itu ? Kalo tiap kali mau jualan, dia disupply dengan bahan-bahan busuk, mungkin dia lama-lama akan berhenti jadi tukang martabak. Ganti profesi aja jadi tukang sampah atau pemulung.

Harusnya dia berusaha untuk mencari bahan-bahan yang tidak busuk. Ganti supplier, ganti partai yang bisa menyediakan telur yang lebih bersih. Tapi untuk bisa sampai pada keputusan dramatis yang akan mengubah jalan hidup tukang martabak ini, dia harus menyadari dulu bahwa telur-telur tadi busuk. Membuat tukang martabak sadar dan bisa membedakan mana telur busuk mana telur yang tidak busuk, memang jauh lebih mudah daripada membuat "pemilih tetap", "pemilih fanatik" yang tanpa berpikir lagi, punya pilihan yang tetap sama selama puluhan tahun, berubah pikiran.

Ini jadi pertanyaan yang sangat mengganggu pikiran, sampai kapan hasil pemilu akan tetap seperti ini ? Sampai kapan harus mual-mual dan muntah karena terpaksa menikmati apa yang sebenarnya sudah ketaun busuk tapi harus ditelan karena tidak ada pilihan lain ? Barangkali tidak semua mual dan muntah. Ada beberapa pihak yang sudah terbiasa, dan tidak menyadari bahwa yang dimakannya busuk, sehingga tetap bisa menikmati apa yang ada. Ada juga yang menyadari kebusukan tersebut, tapi berhubung sudah terlalu banyak uang yang dikeluarkan buat supplier telur busuk itu, sehingga supaya bisa balik modal, tidak ada pilihan lain selain mendukungnya. Lebih parah lagi mungkin ada yang yakin dengan sepenuh hati, bahwa yang busuk itu baik. Self fullfiling prophecy, yang busuk pun merasa bahwa dirinya tidak busuk.

Gusti, moga-moga kondisi seperti sekarang ini suatu saat bisa berubah. Moga-moga cuma saya saja yang terlalu pesimis dengan apa yang ada sekarang. Siapa tau barangkali memang saya aja yang suuzhon, dengan kebusukan mereka yg tidak pernah merasa bahwa mereka sebenernya busuk. Siapa tahu suatu saat nanti, seperti tukang martabak tadi, bangsa ini juga akan bisa berubah dan masyarakatnya mampu mengambil keputusan yang bisa mengubah nasibnya. Tapi sementara ini ya sudah, nikmati dan makan saja dulu apa yang ada, kalo kerasa anyir-anyir sedikit, ya telen aja.

April 7th, 2004

Chat ama Nanta

Add to Memories Tell a Friend

Chatting ama nanta .....


dalam mimpi



Hallo anak kecil !
Hallo Ayah !!
Kamu lagi ngapain ?
Lagi nyariin Papa, Papa kemana aja sih ngga pernah keliatan ?
Lho kok jadi papa, tadi katanya Ayah ? kamu nyari Papa atau Ayah, emang Papa siapa ?
Terserah Nanta dong, kadang pengen manggil Papa, sama Ayah sama aja kan ?



O ya udah terserah kamu deh, emang kalo sama ibu manggilnya apa ?
Manggilnya "Mama"
Emang kamu udah bisa nyebut mama ?
Sebenernya sih udah Pa, tapi mamanya aja yang ngga mudeng.
Abis kamu ngomongnya ngga jelas sih
Jelas lagi Pa, cuma orang-orang aja yg pada gak ngerti omongan Nanta.






Canggih juga kamu ya ? belum bisa ngomong udah bisa chatting begini.
Canggih doong, anak siapa dulu ? tapi jangan bilang-bilang mama ya ? Nanti ngga boleh pake internet lagi, mumpung mama lagi tidur nih.
Ngomong belum beres aja udah seneng chatting, dasar anak jaman sekarang.
Lagian kalo ngomong sambil cegukan sih, seneng ngomel-ngomel sendiri kalo lagi cegukan ya ? he..he..he...
Abis cape pa, kalo cegukan ngga berenti-berenti, kan Nanta jadi kesel tendili.
Papa dari tadi ditanyain kemana aja kok malah muter ngga ngejawab pertanyaan ?

Papa ngga kemana-mana, dari tadi juga disini-sini aja.
Disini dimana Pa ?


Masih di Belanda.
Wah jauh amaat .... kok ninggalin Nanta sama Mama disini sih ?
Iya ini lagi belajar, biar nanti bisa ngajar lagi, sambil sekalian nabung buat Nanta ama Mama.
Belajar mulu ... perasaan dari dulu kata mama kerjaannya belajar ama pelgi-pelgi gratisan ya pa ?
Ya mumpung ada yang bayarin, nanti kamu juga kalo udah gede dan ada kesempatan bisa kaya papa gini.
Pulang aja deh paaa ....






Belum bisa sayang, masih lama papa harus disini, kamu aja nanti yang nyusul kesini sama mama yah ? mau gak ?
Mau-mau ... di Jakarta panaas, katanya disana dingin yah ?
Kamu anak kecil kok tau-tauan ?
Katanya mama sih begitu, kadang bilang suka takut kalo nyusul, katanya takut kedinginan.
Ah masa mama bilang gitu, nanti disini ada papa kok ngga bakal kedinginan deh. Kamu ngga takut kedinginan ?
Ngga papa malah enak kok, ganti suasana.



Tapi nanti disini ngga ada eyang Kung, eyang Ti serpong, eyang Ti Duren Sawit, tante indah, oom hengky, tante ika, tante rahma, bude Rini, pakde prima ama mas Kiko ?
Kan ada papa ? cieee .... (biar papa GR).
Rumahnya disini kecil-kecil lho, kaya rumah susun gitu, ngga ada halamannya semua.
Ngga papa deh pa, paling nanti kalo mau maen bisa ke taman aja, kan katanya mama, papa bilang disana banyak taman-taman kota ya ?
Iya disini lumayan banyak, nanti kalo kamu kesini papa ajak jalan-jalan muter taman, kalo ngga ketaman kamu takut naik perahu ngga ?
Ngga pa, emang mau naek perahu kemana ?



Muterin kanal-kanal disini, bagus lho Amsterdam, banyak kanal-kanalnya. Kalo ngga nanti dibonceng sepeda deh sama papa, ada boncengan bayi kok disini, di depan sepeda.
Asiik, tapi kapan pa ? jalan-jalan kesananya ?
Ini lagi diurus ijinnya, orang belanda emang lagi agak rese nih.
Ijin tinggal papa aja dari oktober sampe sekarang belum jadi-jadi,
mo ngurus ijin kamu sama mama juga jadi susah.
Nanti kalo nanta kesana tinggal dimana ?



Yee itu mah urusan orang tua, kamu nanti ikut aja, pokoknya beres lah.
Kata mama papa sekarang tinggalnya deket daerah lampu merah yah ? Lampu merah apaan sih pa ?
Heh, mama kok bilang-bilang. Ntar deh diceritain kalo kamu udah gedean. Kapan-kapan kamu bisa tanya Pak De Erwan, sama Mbah Pujo, mereka yang lebih tau daerah ini, papa cuma nggantiin tempat mereka kok, biar bisa ketularan cepet lulus. Belajar ngomong dulu aja yang bener, kecil-kecil kok nanya lampu merah.
Pa, mama udah mau bangun, Nanta mesti pura-pura bobok lagi.



Ya udah sana gih bobok, jangan lupa berdoa yah ?
Berdoa apa pah ?
Berdoa biar kamu sama mama bisa cepet nyusul Papa.
Beres Pa, nanti kalo udah saatnya bareng, kan bakal bareng lagi.
Bener juga kamu anak kecil, sabar aja ya ? bilangin mama juga. Ngga usah bilang kata papa, eh tapi kamu mesti belajar ngomong dulu. Ya udah sana, tidur, nanti kalo udah bangun belajar ngomong lagi yg bener ya ?
Ok pa, daaag
Deeee ...


I wish I was not awaken, and the dream last forever ....

April 4th, 2004

Surat untuk Ananta

Add to Memories Tell a Friend

Nemu dokumen yang lama terselip diantara file-file di directory Miscellanuos. Lama ngga pernah inget kalo tulisan ini pernah ada. Setelah diliat-liat kembali apa yang ditulis di bulan Ramadhan, belum lama terpisah dengan istri, pas kebetulan kangen sama istri dan anak yang waktu itu masih ada di dalam kandungan, dan mulai nyadar bahwa ngga lama lagi bakalan jadi bapak, sepertinya tulisan ini lumayan untuk dibaca kembali. Wah sekarang mah sudah jadi bapak beneran, dulu waktu nulis ini belum. Sekarang Ananta udah lahir dengan selamat, udah hampir 4 bulan, tapi masih lama dia baru bisa baca tulisan ini, sekarang mungkin perlu dan lebih baik dibaca buat bapaknya sendiri yang masih kadang bandel.



Ramadhan 3rd(3.30 AM) 2003, Dalstein Dreef 464 Amsterdam.


Ini adalah pesan-pesan yang ditulis oleh seorang ayah yang terpisah jauh dari istri, dan anaknya yang masih ada di dalam kandungan. Tulisan ini berisi harapan-harapan sang Ayah terhadap anaknya, berdasarkan pengalaman, perjalanan, kesalahan, dan pelajaran yang sempat dialami sang Ayah selama hidupnya.

Nak, kamu sekarang masih ada dalam kandungan Ibumu. Tubuhmu baru mulai terbentuk dalam rahim Ibumu, tapi mungkin jiwamu sudah bisa merasakan kehangatan kasih Ibumu disana. Semoga engkau akan terus berkembang dan dapat lahir dengan selamat. Ayahmu sekarang sedang mendengarkan lagu yang dinyanyikan Louis Armstrong. Entah lagu apa, tapi salah satu liriknya berbunyi, "He wants to give a better life to his son". Somehow teringat dengan kamu nak, I will, Ayah juga ingin kamu nanti akan bisa menjalani kehidupan yang lebih baik dari Ayahmu dan Ibumu.

Sejujurnya, sampai sekarang Ayah masih belum tahu bagaimana caranya Ayah bisa memberikan kehidupan yang baik untukmu, karena kehidupan Ayah sendiri pada saat ini masih begini-begini saja. Belum banyak yang bisa Ayah janjikan untukmu. Ayah sendiri masih belum dapat menjadi orang yang baik, masih belum pantas untuk menjadi contoh buat kamu. Tapi ya, tekad itu sudah ada Nak, sejak saat ini, kamu masih dalam kandungan Ibu, Ayah sudah memiliki tekad untuk mengupayakan sebisa mungkin agar perjalanan hidupmu nanti lebih baik dari ayah ibumu.

Seandainya kehidupan yang lebih baik itu tidak bisa Ayah sediakan, Ayah akan mengusahakan agar engkau paling tidak menjadi orang yang lebih baik daripada Ayah. Pengalaman Ayah selama hidup 28 tahun ini, akan Ayah ceritakan padamu suatu saat nanti. Mungkin andai saja dokumen ini masih ada, engkaupun bisa belajar beberapa hal berkaitan dengan kehidupan Ayah dari tulisan ini. Hmm .... saat ini kamu masih dalam kandungan, butuh waktu cukup lama bagimu untuk akhirnya bisa membaca dokumen ini, dan mengerti apa yang tertulis didalamnya. Seandainya kamu sudah bisa membaca pun, mungkin masih sulit bagimu untuk bisa memahami apa yang Ayah tulis disini. Semoga Ayah masih diberi cukup umur oleh Allah SWT untuk membimbingmu secara langsung kelak, tanpa harus melalui tulisan ini.

Kapan yah sebaiknya kamu membaca tulisan ini ? Barangkali paling tidak setelah kamu lulus SMP. Sebelum kamu masuk SMA, ah, Ayah tidak tahu apakah kamu nanti akan memiliki minat untuk membaca tulisan ini atau tidak. Baiklah, itu Ayah pasrahkan saja kepada kamu nanti, sekarang barangkali Ayah akan mulai menyampaikan harapan, bayangan dan doa ayah terhadapmu nak, nanti akan Ayah lengkapi dengan alasan alasan mengapa Ayah mempunyai harapan seperti itu terhadapmu.

Keteguhan/Pendirian

Ayah berharap engkau dapat menjadi orang yang memiliki keyakinan yang kuat, pendirian dan keteguhan hati. Dalam perjalanan hidup selama ini ayah sempat merasakan, bahwa saat pegangan, keyakinan dan keteguhan hati hilang, saat itu perahu kehidupanmu akan terasa seperti kotak kayu tanpa kendali yang terapung di laut, dan setiap saat bisa hancur saat ada ombak yang menghempaskannya ke batu karang. Seburuk apapun lingkungan dimana kamu berada, seaneh apapun yang tingkah laku orang sekitarmu, semua tidak akan mampu mempengaruhimu, jika engkau memiliki keteguhan hati.

Keteguhan terhadap apakah yang harus aku miliki ? mungkin pertanyaan ini akan timbul setelah engkau membaca harapan pertamaku diatas tadi. Keteguhan terhadap apa yang kau anggap baik dan benar. Bagaimana engkau dapat mengetahui manakah hal yang benar ? yang harus engkau percayai dan engkau pegang teguh tadi ? dan bagaimanakah engkau dapat mengetahui manakah hal yang salah yang perlu engkau singkirkan dari hatimu ?

Hati Nurani

Harapan Ayah yang kedua akan memberikan jawaban atas pertanyaan pertama tadi. Harapan Ayah yang kedua adalah engkau selalu menjadi insan yang mampu untuk melihat jauh kedalam lubuk hatimu, dan mendengarkan dari keheningan di dalam sana, suara-suara hati nurani yang padadasarnya dimiliki oleh setiap manusia, yang didalamnya terkandung kebenaran.

Dalam mendengarkan suara-suara hati nuranimu, insya Allah engkau akan menemukan hal-hal yang benar dan baik disana. Seandainya engkau bisa mendengarkan suara-suara tersebut, merasa nyaman dengan suara-suara tersebut harapan Ayah yang berikutnya adalah agar engkau selalu dapat bertindak mengikuti kata hati, keyakinan yang engkau miliki.

Keselarasan tindakan dengan hati

Berhati-hatilah nak, harapan ini sepertinya yang paling berat, dan bisa mempengaruhi kedua harapan tadi. Seandainya engkau mampu mendengarkan suara hati nurani mu, tapi engkau tidak mencoba untuk mengikutinya, dan memilih untuk melakukan tindakan lain yang bertentangan dengan hati nuranimu, jiwamu akan merasa tidak tentram. Akan selalu ada pertentangan batin, pertentangan antara jiwamu yang pada fitrahnya memiliki pancaran cahaya Illahi dengan tindakan-tindakanmu yang engkau lakukan.

Apabila seorang insan terus menerus melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan bisikan hati nuraninya, hatinya akan bergejolak. Hidupnya akan terasa tidak nyaman. Kondisi ini akan dapat terus berlangsung, dan dapat juga pada akhirnya berhenti. Seandainya kelak dalam hidupmu engkau merasakan pergolakan dan pertentangan ini, kemudian sampai pada suatu saat pergolakan jiwamu berhenti, tetap berhati-hatilah nak. Berhentinya pergolakan dalam jiwamu ini juga harus engkau waspadai. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan engkau tidak lagi merasakan pergolakan dalam jiwamu.

Peperangan dalam Batin

Hal terbaik yang mungkin terjadi adalah ketika akhirnya pergolakan ini berhenti karena engkau telah berhasil untuk menyesuaikan semua tindakan yang engkau lakukan dengan bisikan hati nuranimu. Ketika hawa nafsumu yang mendorong engkau melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nuranimu akhirnya bisa engkau kalahkan, ketika itulah jiwamu berada dalam ketentraman dan ketenangan. Hati nurani mu akan tetap berbisik padamu menyuarakan kebenaran dan kesucian dalam keheningan jiwamu. Bersyukurlah engkau pada Illahi, jika ternyata pergolakan dalam hatimu berakhir dalam kondisi yang demikian.

Sayangnya, hal tersebut diatas ini sangat amat sulit untuk dapat kita capai. Perjuangan untuk mencapai kondisi ini, Ayah tahu tidak mudah. Dan Ayah, yang sampai saat ini pun masih belum berhasil sampai ke tingkat tersebut, hanya berharap semoga akhirnya engkau akan berhasil menyesuaikan tindakan-tindakanmu, dengan hati nuranimu. Sayangnya ujung dari peperangan batin yang dialami oleh kebanyakan manusia seringkali berbeda dengan apa yang telah Ayah ceritakan diatas.

Yang akan terjadi jika engkau tidak mampu mengendalikan tindakanmu, dan nafsu yang mendorongmu melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nurani tersebut tetap mendorongmu bertindak berlawanan dengan hati nuranimu, engkau sedikit demi sedikit akan dapat kehilangan kemampuan untuk mendengarkan hati nuranimu. Hati nuranimu pun letih, dan tidak lagi membisikkan kebenaran padamu. Atau mungkin walaupun masih ada, bisikan itu menjadi semakin lirih dan akhirnya tidak mampu lagi kau dengar, bila engkau terlalu sering mengabaikannya, dan terus melakukan hal yang bertentangan dengan hati nuranimu.

Akhirnya kau hanya melakukan apa yang kau anggap "benar", walaupun "kebenaran" itu tidak lagi bersumber dari hati nuranimu yang jernih, tetapi merupakan kebenaran yang mungkin bersumberkan dari kesalahan yang kau lakukan berulang-ulang, sehingga akhirnya terasa sebagai sesuatu yang benar. Sekali lagi berhati-hatilah dengan hal ini, karena di saat hati nurani letih dan tidak lagi membisikkan kebenaran, kamupun tidak merasakan lagi adanya pergolakan batin. Hal ini adalah hal terburuk yang bisa terjadi, saat tidak ada pergolakan batin, karena hati nuranimu telah terbungkam.

Baiklah sekarang sejenak kita lihat kembali harapan yang sudah Ayah sebutkan. Ayah berharap engkau menjadi orang yang teguh dengan pendirian mu, mampu mendengarkan suara hati nuranimu, mampu menjaga tindakan dan hawa nafsumu untuk selalu menyesuaikan diri dengan hati nuranimu, sehingga engkau memiliki ketenangan jiwa. Ayah berharap dan berdoa agar engkau selalu bisa memenangkan pertarungan tiada akhir antara dirimu-hati nuranimu dengan hawa nafsumu, dan memenangkan hati nuranimu. Ini lah hal-hal terpenting yang ingin Ayah sampaikan.

Jangan Putus Asa

Apa yang Ayah sampaikan diatas adalah harapan yang didambakan dapat tercapai, walaupun masih belum dapat dicapai oleh Ayah sendiri. Memang sekali lagi semua ini tidaklah mudah. Ada saat-saat dalam hidup Ayah, dimana sang hati nurani hanya bisa menangis lirih di dalam jiwa tanpa mampu mengubah dan memperbaiki perilaku. Ini adalah saat-saat yang sulit untuk dihindari, dan akan bisa kita alami sebagai manusia biasa.

Seandainya kau mengalami saat-saat seperti ini kelak, ayah berpesan, jangan pernah berputus asa dan menyerah pada keadaan. Tetaplah yakin bahwa manusia sebenarnya tercipta dalam kondisi yang sempurna, sebagai manusia yang taqwa. Bisikan kebaikan, dan bisikan kearah yang tidak baik selalu datang silih berganti.

Jangan identikkan dirimu dengan kesalahan yang sudah engkau perbuat, karena semua itu terjadi hanya ketika kamu kehilangan kesadaran, keyakinan, serta hubungan dengan hati nuranimu. Jangan hukum dirimu dengan melakukan kesalahan yang sama. Pada saat Ayah merasa telah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan oleh Ayah sendiri, kadang Ayah merasa sangat kotor, malu dan tidak sanggup untuk berhadapan dengan-Nya. Sikap seperti ini setelah direnungkan kembali, hanya akan membawa kita semakin jauh dari Nya.

Dia yang maha Pengampun dan paling memahami hambanya yang diciptakan olehnya, memahami kelemahan dan kekurangan kita. Dia akan tetap selalu membuka peluang untuk perbaikan diri, asal engkau tidak menjauhi peluang itu. Jangan merasa malu untuk bersimpuh dihadapannya Nya dan memohon ampun. Jaga kepercayaan bahwa engkau akan mampu memperbaiki diri, karena fitrah kebaikan ada dalam diri tiap manusia. "Dia" yang maha memberi petunjuk tidak pernah menyukai orang yang berputus asa terhadap petunjuk dan karunianya.


Petunjuk yang Hakiki

Kenapa Ayah tidak banyak mengutip tentang agama dan hubungan dengan Illahi ? Ayah yakin, seandainya engkau mendengarkan dengan jernih, jauh kedalam lubuk hatimu, engkau akan merasakan getaran dan keberadaan Illahi, karena fitrah manusia memanglah demikian adanya. Ayah serahkan padamu, untuk menemukan sendiri getaran ini. Dalam pendidikanmu di rumah dan disekolah kelak, engkau akan dibiasakan dengan rutinitas dan kegiatan beragama. Jangan berhenti sampai disitu, tapi cobalah menengok lebih jauh kedalam hatimu.

Renungkanlah kembali semua yang engkau peroleh tentang hubungan vertikal manusia dengan yang diatas sana. Rasakan sendiri keberadaan Illahi, karena hal ini tidak mungkin bisa diajarkan. Pengakuan bahwa engkau adalah hamba Illahi dengan fitrah yang mengandung pancaran Illahi, akan dapat engkau rasakan sendiri dari dalam jiwamu. Tidak hanya dengan menjalankan ritual, dan memakai label-label keagamaan, tapi dengan merenungkan kembali semua itu. Akan kau temukan sendiri kelak ayat-ayat dalam Al Qur'an yang menganjurkan engkau untuk selalu merenungkan dan memikirkan kekuasaan Illahi.

Pesan-pesan Ayah ini hanyalah lampiran yang tidak ada artinya dibandingkan dengan pegangan yang bersumber dari yang maha memberikan petunjuk dan sumber dari semua cahaya, yaitu Illahi Robbi sendiri, yang ada dalam Al Qur'an dan hadist. Pengetahuan Ayah tentang pegangan ini juga sangat minim nak, semoga engkau dapat menggali sendiri kelak, dan menjadi lebih baik dari Ayah.

Mungkin itu dulu yah nak, Ayah sudah letih dan mulai khawatir dengan semua yang sudah Ayah tulis ini. Kekhawatiran ini timbul karena telah dinyatakan bahwa sesungguhnya sangat besar kemarahan-Nya, pada orang yang mengatakan hal-hal yang tidak dia kerjakan. Percuma semua ini Ayah tulis jika kelak Ayah tidak bisa menunjukkan padamu bahwa Ayah sudah berusaha untuk mewujudkan apa yang Ayah tulis dan pesankan.

Pesan-pesan ini nak, kuharap juga akan sangat bermanfaat bagi diriku sendiri. Sebisa mungkin, karena Ayah yang memberikan pesan ini padamu, Ayah akan mencoba terlebih dulu untuk menjalaninya. Yang sungguh, sampai saat ini masih terasa sangat berat untuk Ayah. Semoga yang diatas sana memberikan kejernihan batin bagi Ayah untuk mendengarkan suara hati nurani Ayah, dan masih memberikan pancaran-Nya untuk menuntun langkah-langkah Ayah dimasa yang akan datang. Ayah sayang padamu nak, dan Ayah sangat berharap agar engkau kelak dapat menjadi insan yang lebih baik dari Ayah.

Ayahmu yang mencintaimu.

April 3rd, 2004

Binun milih

Add to Memories Tell a Friend


Besok pemilu euy ... belum tau mau milih apa sampe sekarang. Lha piye, wong dari dulu sebenernya apatis dan paling males ngikuti perkembangan politik dan kelakuan politisi di Indonesia. Belum lagi bejibunnya partai baru yang bermunculan beberapa tahun belakangan, walaupun sekarang yang harus dipilih tinggal 24 partai. Dulu memang sempet, gara-gara menyandang gelar mahasiswa dan terlanjur dikira aktivis, terpaksa memperhatikan apa yang terjadi. Sekarang most of the time, berita tentang perkembangan politik cuma bikin mual. Ujung-ujungnya paling cuma dapet bahan celaan bersama kalo ketemu mas Anis atau orang-orang yg rajin ngikutin berita politik.

Sebenernya buat junky ini dan perantau lain di negeri kumpeni, yang sudah mendaftar di kedutaan, tidak perlu ikut dateng ke TPS Den Haag. Hari Kamis tgl 1 kemaren udah sampe surat suara kiriman dari kedutaan. Tinggal nyari paku 3 mm, nyoblos sendiri surat suara itu dan kirim balik lewat pos, harus diterima sebelum tanggal 9 dan lembar suaranya tidak boleh rusak. Wah kategori rusaknya piye ya ? moga-moga nanti ngga rusak diperjalanan surat suara itu (atau ngga dianggap rusak setelah sampe).

Apa yang mau dikirim, wong yang mau dipilih apa aja urung ngerti :D. Lumayan juga blog pemilu 2004 . At least jadi ada list daftar website partai. Menggunakan list ini, seleksi personal tahap I berhasil menyingkirkan 37.5% dari kandidat partai. Kalo 9 partai ini ngurus website aja ngga sempat (atau misalnya punya tapi ngga ketemu sama Kang Enda, jurig blog indonesia, terus siapa yang bisa nemu web ini ?), padahal pemilu waktu list di blog itu dibuat, tinggal 3 minggu lagi, gimana mau mengurus dan menyampaikan aspirasi rakyat. Nasibmu lah.

Masih ada 15 partai. Hmm ... ini angkanya lebih enak daripada 24 partai. Lucu, yang 4 ada gambar bantengnya ... banteng segitiga, banteng kotak garis-garis, banteng segilima, banteng bulet bermoncong putih (sama buletnya sama bossnya, kenapa gak cingur putih sekalian, bisa dirujak). Lho, heh ? yang segilima di list blog pemilu tadi ndak ada ? wah jadi dari 15 ada tinggal 3 banteng. Yang satu mantan artis, yang dua capresnya membawa nama besar bung Karno.

Sebenarnya saya sangat mengagumi bapak itu, tokoh pemersatu bangsa yang awalnya sempat bisa diterima semua golongan. Beliau mampu melihat apa yang sejalan dan apa yang bisa disepakati dari paham/budaya/ideologi yang berbeda. Nasionalisme, sosialisme, dan agama aja bisa dicari irisannya oleh beliau, malah sama komunis juga kayanya. Di negara yang tidak semua orang berjenggot, tidak semua orang miskin atau petani, tidak semua orang kaya, tidak semua jawa, dan tidak semua sunda, tapi yang ada emang sangat beragam gini, sebenernya perlu pemersatu. Bukan pemecah dan sektarian yang semakin meretakkan keutuhan bangsa yang sudah rapuh ini. Kalo beliau masih hidup kira-kira apa tanggapan beliau terhadap putra-putrinya sekarang ? Semua memang pakai nama beliau, tapi seandainya Soekarno Putri/Putra dihapus dari KTP mereka apakah orang masih akan mengakui eksistensinya ? (Partai anaknya pengganti Sukarno juga ada, tapi websitenya gak ketemu, jadi gak dibahas, ilang di filter I).

Males ah milih banteng-banteng ini, ntar dikirain gue milih karena sama-sama bertanduk seperti Bison. Biar aja fans-fansnya yang seneng merah-merah atau seneng rujak cingur yang milih banteng ini. Coba liat yang lain, masih ada 12 partai lagi, ooo ada satu yang ngga perlu diliat-liat lagi. Yang bosok/busuk/membusuk, penuh dengan kotoran yang walaupun sudah minta maaf tetap saja kotor, karena kotorannya tidak dibersihkan. Kotoran itu harusnya dibuang. Contohnya: kotoran manusia yang kebetulan biasanya berwarna kuning itu harus dibuang kalo tidak mau kena penyakit menular, dan tidak mau muntah-muntah karena bau.

Walaupun mungkin ada orang yang doyan dan berbahagia dengan kotoran disekitarnya, ini biasanya cuman kalo mereka belum sadar bahwa ada kotoran disitu. Waktu masih fresh memang kadang kotoran itu tidak langsung berbau. Tapi setelah sekian lama, ya tercium juga baunya. Orang normal akan muntah, orang yang udah biasa ya menikmati bau kotoran ini, menyemprotnya dengan parfum, dan mengatakan bahwa kotoran ini kotoran yang baik. Terserah lah ... cape ngomongin kotoran.

Masih 11 partai yang harus gue pertimbangkan. Satu lagi terpaksa di eliminir. Tersinggung, ini mah masalah sakit-hati dan dendam pribadi. Ngenes, mengingat gue harus terpisah cukup lama dengan istri yang cuma satu-satunya dan untuk selamanya hanya satu yang akan gue cintai, gara-gara gue berusaha menyelesaikan studi S3, dan mencoba akhirnya nanti semoga bisa dapet gelar Doktor. Sementara ada yang tiba-tiba mendapat gelar ini setelah menjadi pejabat, entah darimana, yg jelas tanpa susah payah, dan bisa bersenang-senang dengan beberapa istrinya di Indonesia. Maaf. Sorry yeee ...

Masih ada 10 partai. Ada yang gambar merpati, ada yang ka'bah, ada yang bintang, wah bagus-bagus gambarnya. Merpati emang lambang kedamaian, tapi terpaksa ndak dipilih, sebab dibelakangnya ada gambar salib, sepertinya saya di KTP masih tertulis Islam nanti dimarahin mertua. Tapi masih bisa dipertimbangkan sebenernya.

Tuh kan, saya jadi hampir mencoret partai merpati tadi, karena ada gambar salibnya dan KTP saya Islam. Padahal mungkin harusnya tidak begitu, tapi kalo emang bermodalkan sentimen agama, yang terjadi akan seperti ini. Pilih-pilih label dan gambar. Inget jaman di UI dulu. Botol hijau selalu menjadi favorit apapun cairan yang ada didalamnya, mau air aki, mau air keran (air keran mah dibelanda enak-enak aja seger), atau air murni dari mata air, orang liat botolnya, bukan isinya. (Buat apa isinya kalo udah cocok botolnya ? lho heh ?). Mungkin ini akan jadi bahan pertimbangan dalam memilih sisa 9 partai lagi.

Sebenernya masih ada yang berhubungan dengan kuning-kuning masa lalu tadi, yang harus gue filtered out of consideration, tapi udah males ngebahas. Takut mual. Sekarang tinggal mana dari sisa ini yang kira-kira sebaiknya mewakili gue.Udah ah, kayanya ini selanjutnya akan dibahas sendiri saja. Nanti lama-lama kalo tinggal 2 partai ketauan dong gue milih apa ? Sudah tidak langsung, karena lewat pos, tidak rahasia pula, untungnya gue masih bebas memilih sih :D

April 2nd, 2004

Anatomi kemalasan

Add to Memories Tell a Friend

April 1st, 2004

Just lonely

Add to Memories Tell a Friend

[.....]
Now no one knocks upon my door
For a thousands year or more
All made up and no where to go
Welcome to this one man show.

Just take a sit they're always free
No surprise no mistery
In this theatre that I call my soul
I always play the starring role.

[...]


The Police, so Lonely, broken hearted parts removed, I'm just feeling lonely.
What else to say ? Do I need to pretend that I am not lonely ?
Should I wear a masquerade and pretend that I am a hermit
who is happy when no one is around,
and pretend to be someone who enjoy his loneliness ?
I wish I could do that.



Or maybe I should learn from Calvin.
I wish I could create an imaginary friends like Hobbes,
and feel his presence around me, all the time.

March 30th, 2004

Kangeeeeeeen .....

Add to Memories Tell a Friend


Cuaca Belanda hari ini secara ajaib, keliatan cerah. Lebih meyakinkan daripada kemaren. Kemaren sempet senang dan berharap spring udah beneran dateng, setelah ngeliat matahari kuning terang dan ngga ketutup mendung, Sayangnya kemaren cuma sebentar, belum jam 3 sore udah mendung lagi. Hari ini ternyata beneran cerah sampai jam 7.47 malam.

Sayang Mbak Ati ngga ada disini.... cerah-cerah gini jadi kangen dan pengen ngajak Mbak Ati sama Nanta jalan-jalan, muterin Flevo park. Belanda biarpun udah maju negaranya, tapi rasanya tetep suasananya lebih alami, banyak taman-taman dengan danau yang enak buat refreshing dan jalan-jalan. Masih banyak bebek dan angsa gendut-gendut yang berkeliaran di kanal, kadang malah ada bangau segala. Di kompleks Watergrafsmeer Science Park Amsterdam ini kelinci aja masih bisa ketemu lari-lari bebas, ngga ada yang nangkep dan nyate. Malah kemaren baru nyadar kalo di blakang kampus ada ayam-ayam kate yang masih bebas berkeliaran.

Kangen, pengennya mbak Ati ada disini dan bisa bareng duduk dikursi kayu favorit di danau kecil depan kampus, menikmati cuaca cerah ini. Bukan cuma sendirian ngerokok ngeliatin danau dan taman sambil pura-pura ngebayangin beneran mbak Ati ada disini. Jadi terngiang lagu gombal yang bikin mbak Ati sedih waktu dinyanyiin lewat telpon kemaren dulu:



Walau kau jauh disana
Terpisah luas samudra
Namun slalu terasa
Kau ada disampingku

Iringi tiap langkahku
Hadir didalam mimpiku
Kemanapun ku pergi
Kau slalu ku rindu

Tak kan tersisa, ruang
Dalam hatiku, sayang
Semua tercipta,
Hanyalah untukmu

Ku akan slalu setia
Padamu kekasihku
Kan kujaga cinta
Untuk selamanya.

Nanti kalo udah beli asia card, bisa ngegombal lagi lewat telepon. Sekarang sabar dulu ya Mbak ?

March 29th, 2004

Mr. S & Masquerade

Add to Memories Tell a Friend


Setelah 15 tahun tidak pernah ketemu, akhirnya ketemu lagi dengan teman SMP. Mr. R bin S. Ternyata selama ini sama-sama merantau di negeri kumpeni, dia udah 2.5 taun berkeliaran di Utrecht, dan saya juga udah 2.5 taun nguplek di Amsterdam, walaupun saya sempet balik setaun dan dia tetep disini dari 2001. Wah ternyata sama-sama doyan lechee ! Dan ternyata leci di Utrecht lebih murah daripada di Amsterdam, jadi akhirnya dia dateng ke Amsterdam membawa supply lechee dan beberapa tumpuk cerita tentang ngapain aja dia selama ini dan cerita tentang orang-orang yang dulu saya pernah kenal.

Perjalanan masing-masing setelah 15 tahun gak ketemu ternyata menarik. saya yang mondar mandir Bandung, Magelang, Depok Amsterdam, dan Mr. S yang di Bandung, Bandung, Amrik sebentar, Bandung dan akhirnya ke Belanda, sama-sama punya banyak pengalaman yang bisa dibahas. Walaupun sebenarnya dulu cuma bareng pas Marching band, dia maen bas drum & saya maen terompet, tapi mungkin karena sama-sama doyan lechee dan sama-sama terdampar di negeri perantauan ini, akhirnya jadi seperti ketemu temen lama yang dulu pernah deket.

Kemungkinan besar ini juga karena pengaruh lechee ... atau mungkin juga karena sama-sama punya masalah dengan hal-hal yang penting, tapi tidak ada deadlinenya, sehingga sama-sama suka menunda-nunda pekerjaan, procastinating kalau kondisinya tidak memaksa untuk harus mengerjakan kerjaan itu (seperti thesis misalnya ...). Dan sama-sama merasa butuh kondisi yang agak tough (semi military conditions atau mungkin malah militer sekalian) yang membuat orang terpaksa melakukan apa yang harus mereka lakukan, tanpa pilihan untuk menunda-nunda lagi. Hal-hal seperti ini yang membuat ngobrol ama Mr. S seperti ngobrol dengan orang yang pernah kenal lama.

Satu hal yang saya impressed dari Mr. S adalah bahwa bapak yang satu ini sangat apa adanya dan tidak pernah berusaha untuk membuat-buat citra/bayangan yang "dikasepkeun" istilah dia, atau dibuat lebih baik. Hidup apa adanya tanpa pernah berusaha mengenakan "beauty masquerade", sepertinya bisa membuat orang menjadi lebih tenang. Barangkali saya salah, karena memang baru ngobrol, luntang luntung 2 hari 2 malam di Amsterdam dan Utrecht dengan bapak ini, tapi inilah kesan yang bisa saya dapet. Btw supaya bapak S ini ngga ngamuk, kalo-kalo saya salah nulis tentang dia, maka bahasan tentang Mr. S mungkin sebaiknya cukup sampai disini.

Mr S ini memang cuma pengantar karena saya lagi pengen nulis sekilas tentang Masquerade, "an action or appearance that is mere disguise or show". Walaupun agak memalukan dan nggilani, tapi rasanya ada fase-fase dalam hidup saya yang tanpa sadar saya mencoba memakai masquerade untuk memanipulasi opini orang, atau lebih parah lagi secara sadar karena butuh, mencoba make mask supaya bisa diterima. Menyedihkan memang, tapi sialnya kadang-kadang memakai masquerade ini satu-satunya cara untuk bisa diterima di suatu kelompok orang atau lingkungan.

Dari pengalaman mengenakan masquerade yang yang pernah saya alami, awal-awalnya memang menyenangkan. Pretending to be someone else based on other's expectation, or pretending to be someone better than the actual person underneath. Orang jadi impressed dan punya banyak kesan baik, banyak yang bisa menerima, banyak juga yang tertipu, dan banyak yang akhirnya menjadi korban (liat aja di friendster berapa banyak orang tertipu).

Tapi lama-kelamaan berhadapan dengan orang-orang yang punya anggapan dan harapan yg lebih baik dari kenyataan, ternyata bisa membuat batin jadi tersiksa. Semakin tersiksa kalau orang lama-lama jadi yakin, sangat percaya terhadap masquerade yang selama ini mereka lihat, dan tidak mencoba untuk melihat apa yang sebenernya ada dibalik "beauty masquerade" itu. Semakin indah topeng yang digunakan, semakin tinggi harapan orang terhadap pemakai topeng itu. Semakin dalam juga kekecewaan mereka setelah ternyata topeng itu terbuka dan wajah yang tersembunyi dibalik itu ternyata jauh dari bayangan mereka selama ini.

March 22nd, 2004

Idiot

Add to Memories Tell a Friend
Baru tau setelah liat di tulisan ini ternyata kata-kata idiot yang sering kita pake itu asalnya dari kata idiotes. Ini bahasa Yunani, istilah yang dipake orang Yunani jaman dulu, untuk menyebut orang yang tidak ikut ambil bagian dalam proses politik.

Cuma artinya sekarang udah agak berubah, umumnya ya idiot itu idiot, tau sendirilah ... orang sama-sama idiot kok bingung. Apa mungkin sekarang malah sepertinya udah kebalik 180 derajat, justru yang ikutan politik itu yang jadi "idiot". Ngga juga ding, ada juga yang ngga idiot ... tapi kecil-kecil, sementara yang gendut-gendut, ngga bisa ngomong, sekali ngomong keluarnya sampah ? .... ndak tau yaa (ndak merujuk ke siapa-siapa lho, paling ke cermin, saya juga gendut, jarang ngomong dan sering ngutak-atik kranjang sampah di Amsterdam, maklum junky).

Sekarang memang agak susah untuk nyari politikus yang tidak idiot. Lho kok susah ? padahal kalo ngikut definisi diatas harusnya ini gampang, karena semua yang ikutan politik alias semua politikus mestinya tidak idiot. Tapi kenyataan memang pahit dan tidak selalu sesuai dengan harapan. Mau diapain lagi, yang ngga punya gelar banyak, yang mesti beli ijazah SMA, ada juga yang tau-tau dapet doktor entah dari mana, padahal banyak yang harus berdarah-darah terpisah dari istri anak dan menderita di perantauan untuk dapet doktor.

Mau pake common sense atau mau pake definisi diatas sih mestinya "org yg gak ikut politik" ya mestinya ndak bisa jadi politisi atau bahkan presiden/wakil. Alias "orang idiot' mestinya ndak bisa jadi menduduki posisi penting suatu negara mau indonesia atau bahkan negara paling berkuasa di dunia, tapi yaah ... apa nak dikate, ya sudahlah ... nanti malah tambah depresi kalo mikirin kelakuan politisi, di kampung halaman, dan di negeri orang yang arogan. Ini cuma amused gara-gara asal-usul kata idiot itu.

March 21st, 2004

Manusia Jawa Tanpa Ciri

Add to Memories Tell a Friend
Kelurahan koestraat 34 amsterdam sepi karena warga masih sibuk dengan urusan masing-masing. Barangkali juga karena sekarang sudah tidak adalagi pak lurah Erwan yang bisa menjamin adanya makanan yang enak di akhir pekan, ndak seperti pak Carik sekarang yang menguasai Koestraat ini.

Anyway peninggalan lurah Erwan Poerwanto menjadi temen melewati malam minggu ini. Tulisan pak Darmanto Jatman tentang ajaran psikologi jawanya Kyai Ageng Suryomentaram. Wah, bagus ternyata, barangkali ini kunci ajaran yang selama ini diterapkan pak Lurah semasa dia menjabat di Amsterdam :D.

Tulisan psikologi jawanya ini ilmiah, merembet dan membahas kemana-mana karena beliau ini memang pakar psikologi di Undip, tadinya di UGM. Psikoanalitiknya Freud, behaviourism nya entah siapa gue lupa, terus Maslow kebawa-bawa. Dan yang terakhir dia pake sebagai pembanding dan analogi yang paling mirip dengan ajarannya Kyai Suryomentaram.

Sayang aku bukan bener-bener psikolog yang ngerti cerita dan latar belakang dari pemikiran tokoh-tokoh psikologi barat, sehingga tulisan pak Darmanto ini agak berat, bener-bener seperti thesis psikologi. Banyak banget referensi dan bahasan latar belakang pemikiran orang-orang itu, tapi aku malah jadi tambah ngga mudeng.

Apa yang pengen dicapai Maslow sama pak kiai walaupun beda, ada kesamaan. Kalo si maslow katanya pengen mencapai manusia kreatif yang independent, pak Kyai SM bilang ujung-ujungnya setelah memahami psikologi jawa ini orang mestinya bisa jadi "manusia tanpa ciri". Mbuh jan-jane iki karepe opo, tapi kurang lebih, manusia ini udah tidak terikat sama catatan pengalaman-pengalaman hidup dia, udah bisa melihat dari luar dirinya sendiri "rasa", keinginan-keinginan dia dan menyadari sebab-sebab dari semua dorongan yang dia miliki, tanpa terikat dengan keinginan-keinginan itu.

Dia ngomong bahwa untuk bisa sampai ke tingkat manusia tanpa ciri ini butuh kemampuan mawas diri. Mengolah semua pengalaman fisik dengan dunia luar, dan melihat kedalam jiwa dan apa yang sudah dialami selama ini. Mawas diri ini katanya jadi jalan untuk menuju kebahagiaan hidup.

Dia bilang katanya orang mestinya apa-apa itu ya : Sabutuhe, saperlune, sacukupe, sakepenake, samestine, sabenere (=sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, seenaknya, seharusnya, sebenarnya). Rasanya dia sempet bilang bahwa di dunia ini ngga ada hal yang bener-bener perlu dikejar sampe orang harus ngaya-aya (ngotot-ngeyel-obsessed).

Somehow dulu pernah sekilas ngebaca Awareness nya de Mello, The Seat of The Soul nya mantan fisikawan yg jadi penulis namanya siapa itu gue lupa juga, atau penjelasan dan transliterasi dari Bagawad Gita nya siapa ya yang ngarang lagi-lagi lupa, semua bacaan-bacaan yang cuma dibaca sekilas, oleh org yang tertarik untuk memahami masalah jiwa tapi ngga pernah bener-bener mudeng ini, tulisan-tulisan ini kerasa banyak kesamaannya.

Manusia tanpa ciri nya pak Kyai ini, jiwa yang tidak terpengaruh apa-apanya Bagawad Gita itu barangkali kurang lebih sama idenya. Ada sesuatu, sesuatu dalam diri tiap manusia yang sebenarnya serba baik dan tidak terpengaruh dengan apa yang ada di sekitarnya. Bahkan kalo di Bagawad Gita itu jiwa bener-bener tidak bakalan ancur oleh perang baratayuda ataupun kematian.

Rasanya bolak-balik pak Kyai ini sempet bilang bahwa ketika kita retrospeksi dan melihat kebelakang hal-hal yang sudah kita lakukan dan kita rasakan bahwa itu sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diingini oleh jiwa atau "manusia tanpa ciri" di dalam kita, org yang menganut ajaran ini akan bilang "iku dudu aku", dan ketika kita melihat org lain melakukan hal yang sebenarnya kita percaya bukan merupakan dorongan dari "jiwa" baik di dalam dirinya, kita bilang "iku dudu kowe".

It wasn't me, kalo kata org item yg nyanyi rap, sopo to yo, aku kok lali meneh. Melihat kebelakang semua kebandelan, kesalahan, kebodohan dan kekurangajaran yang pernah dibuat selama hidup, kadang pengen juga bisa bilang begitu. Mencoba memahami bahwa sebenarnya, pada saat itu ya itu "aku", "yang sedang begitu", pada "suasana dan kondisi yang seperti itu", tapi itu bukan "aku" yang sejatine.

Rasanya bisa dimengerti kenapa para tokoh-tokoh pemikir ini memutuskan untuk bikin suatu higher-self yang baik itu. Barangkali supaya ngga frustasi. Supaya orang kalo sudah berbuat kesalahan itu tidak perlu mengidentifikasikan dirinya dengan kesalahan yang pernah dia buat, tidak perlu terus-menerus menyesali dan khawatir bahwa dirinya memang sudah ditakdirkan untuk berbuat salah.

Sehingga orang akhirnya bisa bangkit lagi, bisa percaya ada sisi baik dalam diri setiap orang, dan apa yang kita lakukan selama ini sebenernya belum tentu merupakan "diri" kita yang sejati. Bahwa fa'alhamaha fujuroha wa taqwaha, memang selalu ada bisikan jelek dan baik yang sampai ke seseorang.

Kalo orang terus-terusan mengidentikkan diri dengan kesalahannya .. sekali terpuruk, makin terpuruk. Sekali mabok makin mabok, dan sekali bandel makin bandel. Tapi kalo orang juga mengidentifikasikan diri dengan semua achievement yang dia udah pernah capai, bisa juga malah jadi sombong, takabur dan tidak bisa mawas diri lagi.

Ya sudahlah, sudah kebanyakan nulis ngga jelas, nasibnya yg nyasar kesini (atau udah disasarkan kesini) dan ngebaca. Skrg mau ngapain ? Belanja kali yeee .... kelurahan sudah rawan pangan.

March 20th, 2004

Nasib

Add to Memories Tell a Friend
Sebenarnya 6 bulan belakangan ini, sejak oktober terdampar di negeri belanda, apa yang harus dikerjakan disini masih vague. Scientific programmer bukan, tapi kerjaannya dari Oktober mengejar-ngejar "kutu" di software VLAM-G, yang bakalan di ressurect jadi VL-E .
Resminya di kontrak mah AIO alias assistant trainee yang mestinya ngerjain research leading to PhD. Tapi kenyataannya begini, mending kalo bayarannya sekalian Scientific Programmer, lebih mendingan dari AIO dan kerjaannya jelas. Anyway, gue masih coba nyari waktu sendiri untuk mendefinisikan apa yang mau di teliti sebenernya selama nanti kalo akhirnya jadi beneran PhD. Tapi inipun ngga gampang, karena harus sesuai dengan framework VL-E project, dan research di CAPS.

Si Didi Kempot ngelempar-lempar manggis dapetnya mangga.
Gue katanya ngejar PhD malah dapetnya kutu :D

Ide semalam, just pop up out of nowhere
Tapi sekarang ini ada secercah harapan. Di VL-E tadi harusnya ada 3 fokus research topik, resource management, udah diambil ama Vladimir Korkhov, Collaborative System gue males dan ngga tertarik, sepertinya Sanders ama orang baru yg bakalan direkrut akan ngambil ini. Program 2.5 dibawah Adam Belloum boss gue ini tinggal menyisakan sub research Workflow Management. Padahal master kemaren background gue lebih ke fault tolerance & process migration. Sepertinya gue harus memilih ...

Edward de Bono pernah bilang, tidak selalu semua harus memilih. Paradigma memilih ini paradigma militer, paradigma orang dipersimpangan jalan . Ya/tidak, kekiri/kekanan, benar/salah, ini atau itu, tidak bisa sekalian digabung. Tapi kalo dalam investasi, ngga baik untuk naro semua saham hanya dalam satu current promising stock. Perhaps gue harus ngikutin approach ini. Moga-moga energinya cukup, untuk ngeliat liat ke Workflow issues, ngeliat lagi Checkpoint/fault tolerance issues ... terus ?

Terus, gue ya jadi kepikiran gimana kalo digabung aja ? bikin research yang berhubungan sama dua topik ini ? Sepertinya ide ini bagus banget tadi malem pas dipikir-pikir. Workflow, considering fault tolerance & checkpoint. Perasaan belum pernah denger, dan di Web Service/Workflow community rasanya mereka ngga ngurusin checkpoint, meanwhile Dynamite, Condor checkpoint research yg ada biasanya lebih teknis, detail, tergantung platform dan sibuk dengan memperbaiki mekanisme checkpointnnya, instead of integrasi dengan WS atau WSRF/Grid.

Ternyataa ....
Blaik ... bloonnya diriku, baru seneng semalem mikir-mikir dan ngebreakdown kira-kira apa aja yang perlu disiapin, dan diexplore lebih jauh, siang ini liat di google, kok kayanya udah ada banyak yang bergerak ke arah sana. Walah ... bener kali emang there is nothing new under the sun. Gundul, ada thesis yang mirip di Gorgia Uni, sama ada lagi research orang-orang DECS Southampton, mereka ini kira-kira udah seberapa jauh sekarang ya ? Parah lagi mbahnya Grid Computing, carl kesselman aja udah mulai nulis paper tentang itu, di IEEE lagi, makanya ... buka wawasan yg bener baru mikir mau punya ide.

March 19th, 2004

Tragis

Add to Memories Tell a Friend
Mana yang lebih tragis, orang yang satu-satunya transportasi untuk pulang hanya sepeda,
terus tengah malem pas mau pulang ternyata sepedanya kempes dan gak punya alat untuk benerin,
shg terpaksa nginep semaleman dikampus ?

Atau perokok berat yang kehabisan rokok, disore hari waktu hujan lebat dan angin,
sementara toko yang jual rokok terdekat cukup jauh,
dan disekitar nya ngga ada temen yang bisa dimintai rokok ?
<td> </td> <td> Atau suami yang belum lama menikah dengan istri tercinta yang baik dan sabar, baru punya anak yang lucu, gendut & bikin kangen, tapi harus terpisah dulu, gara-gara suaminya harus PhD selama 4 tahun, sementara istri anaknya mau ikut ngurus ijinnya susah ? </td>

Mana yang lebih tragis ?

Sebenernya ngga tragis-tragis amat sih,
dan nasib ketiga orang yang ngenes tadi kalo digabung jadilah,
nasib aku sore hari ini

Why ?

Add to Memories Tell a Friend

Pertanyaan kenapa orang mengerjakan apa yang dia kerjakan
sering dengan mudah terlupakan.
Kalau apa yang dikerjakan itu sudah menjadi kebiasaan,
kalau semua orang disekitarnya melakukan hal yang sama,
kalau orang tersebut tidak memiliki pilihan lain atau
kalau seseorang tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.

Dalam kasus pertama mungkin pada saat pertama kali orang masih sadar
kenapa dia mulai mengerjakan suatu kebiasaan baru.
Setelah selang beberapa waktu kadang sudah jarang
orang mempertanyakan apa alasan awal orang melakukan apa yang dia kerjakan.

Dalam kasus kedua mungkin pada saat pertama kali masuk lingkungan baru,
orang masih bertanya tanya melihat kebiasaan orang sekitarnya
kenapa mereka melakukan apa yang mereka kerjakan,
dan kemudian dia mengikuti kebiasaan mereka, dan sekali lagi,
tidak pernah mempertanyaan sebab, alasan, dan tujuan dari tindakannya.

Dalam kasus ketiga, memang mungkin situasi orang itu tidak memungkinkan,
bagi dia untuk memiliki pilihan melakukan tindakan yang lain.
Tetap pada awalnya mungkin dia masih memiliki keinginan,
masih bisa bermimpi dan mengharap akan ada perubahan,
sampai akhirnya dia lupa akan itu semua, dan sekedar
mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan.

Orang yang terakhir memang dari awal tidak pernah memikirkan
kenapa dia mengerjakan apa yang dia kerjakan.
Beruntung kalau orang ini terus-menerus tidak sadar,
dan tidak pernah mencoba untuk memikirkan,
kenapa dia melakukan apa yang dia lakukan sekarang.

Sayangnya, kadang orang yang tidak sadar inipun terjaga,
dan mulai bertanya-tanya kenapa dia melakukan apa yang dia lakukan.
Sukur-sukur kalo yang dikerjakan itu pekerjaan baik yang menyenangkan,
tapi biasanya kalau kasus seperti ini, jarang orang akan bertanya-tanya sendiri.

Sialnya kadang orang yang tidak sadar ini melakukan hal yang,
sebenarnya saat sadar dia tidak ingin lakukan.
Penyesalan, kekecewaan dan kesedihan bisa terasa.

Ada lagi juga orang yang melakukan sesuatu tanpa sadar,
bukan sesuatu yang menyenangkan, bukan pula sesuatu yang menyebalkan.
Tapi tetap dia tidak pernah tahu sebenarnya kenapa dia mengerjakan
apa yang dia kerjakan.

Semua berjalan lancar, sampai suatu saat dia berhenti, bingung dan bertanya.
Sebenernya kenapa aku kerjakan semua yang aku kerjakan saat ini ?
Sebenarnya apa yang ingin aku capai ?
Sebenarnya apa yang mendorong aku mengerjakan semua ini ?

Kalau sampai saat ini sebenarnya aku hanya terbang mengikuti angin,
kenapa aku mengikuti arus angin yang menuju ke tempat ku saat ini ?

Kalau aku hanya terapung di sungai kehidupan,
kenapa aku sampai ke cabang anak sungai ini ?

Kemanakah akhirnya aliran sungai ini akan berujung ?
Dilaut manakah akhirnya aku akan terdampar ?

Akankah aku mampu untuk membuat pilihan di percabangan yang berikutnya ?
Akankah aku kembali secara tidak sadar mengalir melalui salah satu cabang yang ada ?

Perlukah aku mencoba mengayuh dan mengendalikan arah terapungnya jiwa ?
Atau biar saja tiupan angin, arus dan gelombang membawa ku kemana pun akhirnya aku akan terbawa ?
Powered by LiveJournal.com