| less millionaire material | more millionaire material |
| less curious | more curious |
Openness To Experience
Your high score in the Openness category means that you probably have a strong creative streak. Your broad intellectual curiosity and your interest in the various arts set you apart. Some people may consider you somewhat of a dreamer, and your taste for variety often means moving quickly on to the next experience. This tendency makes you appear a bit flighty and inconsistent. But these elements of your personality simply reflect a character full of new ideas and charged with emotions.| less focused | more focused |
Conscientiousness
Your medium score in the Conscientiousness category means that you have achieved a solid balance in your outlook towards responsibility. You are probably somewhat organized, with a little room for improvement. Your priorities probably reflect a mix of work and play. Thoughtfulness characterizes your thinking style, so you give gravity to important decisions without making a big deal out of minor issues. You are probably serious about achieving success, but do not feel completely driven by this motivation. All in all, you've got a very healthy perspective on work and duty.| less extraverted | more extraverted |
Extraversion
Your medium score in the Extraversion category defines your social identity. You are probably comfortable in either a crowd or by yourself, and spending time alone or with company is equally enjoyable. When among others, you tend to stand in the foreground, although you may not always wish to take the position of a leader. Instead, you seem to prefer moving between the role of leader and follower, as the situation requires. You probably keep a moderately active social life; you're generally on the lookout for excitement, but certainly don't require it. You tend to keep a fairly positive emotional outlook, and people can usually count on your for some good cheer.| less adaptive | more adaptive |
Agreeableness
The Agreeableness category refers to your social disposition. Your medium score indicates someone who balances the priorities of your own inner voice with the needs of others. You tend to be concerned with the harmony of the group, while maintaining a certain independence. Depending on the situation, you might adopt a stance that defers to the wishes of others, or else assert your own individuality. In this way, you have a great deal of tact, and believe in the situational equality of people. You probably have an approachable and kind personality. People probably admire you for your ability to speak your mind when appropriate.| less reactive | more reactive |
Negative Emotionality
Negative Emotionality refers to your emotional reactivity. Your medium score means that you're someone who negotiates your emotions depending on your situation. Sometimes you may feel quite sensitive and emotional, while other times you may remain resilient to outside pressures. This quality of adaptation best describes your emotional character. You maintain a rational outlook, which is moderated by feelings. For example, you can sometimes feel sad, stressed, worried or embarrassed under the weight of a situation, but you are able to act quite calm and reserved, without yielding to the stress. Responsive, without being overly reactive, is the best way to describe you.
Dulu pernah baca di komik kungfu boy, Chin Mi entah seri yang keberapa, ada cerita tentang jangkrik. Dua jangkrik yang masih sama-sama sehat, dan masih kecil ditangkep. Yang satu dimasukin dalam kandang yg tingginya cuma 15 senti, yang satu dibiarin di lapangan bebas (tapi ditandain kali yah, jadi ketauan yg mana jangkriknya). Setelah beberapa lama, dan udah sama-sama besar, jangkrik di dalam kotak dikeluarin.
Ternyata kalo diliat loncat-loncatan si jangkrik ini ngga pernah bisa lebih tinggi dari 15 senti. Sementara jangkrik yang diluar kotak itu bisa meloncat jauh lebih tinggi dari jangkrik dalam kotak. Kalo ditanya sama jangkrik yg diluar kotak, si jangkrik yang didalam kotak juga sejujurnya akan bilang bahwa dia ngga bisa ngeloncat lebih tinggi dari itu. Dia ngga bohong, sepengetahuan dia memang ngga bisa lebih dari itu, karena yang dia tau selama hidup di dalam kotak, loncat ya emang cuma bisa setinggi itu.
Dari cerita ini, waktu seseorang bilang bahwa dia ngga bisa mengerjakan sesuatu, kadang perlu dilihat kembali. Jangan-jangan dia senasib dengan jangkrik dalam kotak tadi. Apa ya bener orang ini memang ngga bisa, atau sebenernya cuma merasa ngga bisa. Mungkin ini terjadi karena dia ngga tau bahwa ada potensi dalam dirinya yang selama ini tidak pernah tergali, karena selalu terbatasi oleh lingkungan tempat hidupnya.
Ini nasib orang yang ngga meriksa tanggalan dan ngga nyadar kalo liburan paskah sekarang berarti long weekend, Jum'at libur dan senen libur. Jum'at, Sabtu, Minggu, Senen libur dan saya baru nyadar hari kamis, pas ditanya sama pak Adam, besok mau ngapain, lho heh emang ngapain ? besok libur .. ooo ....
Akhirnya karena ngga punya rencana apa-apa ya jadinya gak jelas begini. Untung mas Anis masih menampung refugee, saya masih boleh dateng kerumahnya, menikmati gulai nangka dan ADSL nya yang 24 jam. Jadi bisa menghibur diri, dan meliat-liat apa yang terjadi lewat internet.
Saat nulis sekarang ini sudah 64 juta suara dihitung oleh KPU. Empat peringkat atas masih didominasi partai lama yang mungkin memang sudah punya fixed voters, atau mungkin punya basis massa tradisional. Yang agak menghibur adalah peringkat 5 s/d 7, Demokrat, PKS, dan PAN. Masing-masing dapet suara sekitar 4 juta an, dengan presentase antara 6 sampai 7 persen, jadi kalo bertiga digabung kira-kira 20%. Sementara peringkat 8-10 baru dapet suara 2% an, pak Yusril, pak Kyai Z. MZ, sama mbak Tutut. Mungkin akhirnya tiga partai yg disebut belakangan ini bisa memenuhi batas 3 persen.
Sepertinya peta peringkat sekarang ini sudah bisa memberikan gambaran hasil akhir. Barangkali tidak akan ada banyak perubahan posisi, sebenernya beberapa hari terakhir peringkatnya ya begini-begini saja. Ada juga sih yg berubah, itu PIB tadinya no 24 jadi no 23 sekarang, pak Syahrir masih tidak laku ternyata. Lihat hasil gini kok pengen banget rasanya 4 partai di peringkat pertama itu dianggap tidak ada, dan dilupakan dulu saja. Sepertinya partai-partai lama dan besar ini masih membawa trauma masa lalu.
Pengennya kondisi bangsa yang memprihatinkan saat ini segera berakhir. Dengan masih dominannya empat partai besar yang basis masanya memang udah terbangun sejak jaman orde baru, sejak zaman kegelapan, harapan untuk berakhirnya kondisi yg memprihatinkan menjadi terasa sangat jauh dari kenyataan. Hiks.
Pengennya bangsa Indonesia udah melangkah ke masa depan, tidak stuck dengan apa yang sudah ada sekarang, dan jadi bangsa yang maju dan punya martabat. Martabat spesial deh jangan martabat telor setengah mateng yang telornya sudah busuk. Mulai ngga jelas ini tulisan, excusenya karena sekarang udah jam 3.26 am waktu Jan Pieter Huystraat, rumah mas Anis. Mungkin jam livejournal ini nanti bakalan ngaco. Tapi kalo diterusin besok-besok biasanya udah males untuk nulis lagi.
Ya itu, berhubung sekarang laper, dan udah lama ngga makan martabak, saya jadi pengen makan martabak spesial, yang ada di depan stasiun kereta api Bandung. Masih belum ada duanya. Lho kok jadi kesana, tadi nulis apa ? martabat bangsa. Iya, gimana mau membangun bangsa yang bermartabat kalau bahan bakunya sudah punya riwayat yang buruk ? sama seperti berusaha membuat martabak spesial dengan bahan-bahan yang sudah busuk tadi.
Bayangin betapa frustasi dan sedihnya tukang martabak di depan stasiun kereta Bandung tadi, kalo dia harus bikin martabak spesial dari bahan-bahan yang udah ketauan busuk. Gimana dia bisa berharap martabaknya akan jadi sesuatu yang spesial ? mana mungkin martabaknya laku dan membuat saya kangen dengan bahan baku seperti itu ? Kalo tiap kali mau jualan, dia disupply dengan bahan-bahan busuk, mungkin dia lama-lama akan berhenti jadi tukang martabak. Ganti profesi aja jadi tukang sampah atau pemulung.
Harusnya dia berusaha untuk mencari bahan-bahan yang tidak busuk. Ganti supplier, ganti partai yang bisa menyediakan telur yang lebih bersih. Tapi untuk bisa sampai pada keputusan dramatis yang akan mengubah jalan hidup tukang martabak ini, dia harus menyadari dulu bahwa telur-telur tadi busuk. Membuat tukang martabak sadar dan bisa membedakan mana telur busuk mana telur yang tidak busuk, memang jauh lebih mudah daripada membuat "pemilih tetap", "pemilih fanatik" yang tanpa berpikir lagi, punya pilihan yang tetap sama selama puluhan tahun, berubah pikiran.
Ini jadi pertanyaan yang sangat mengganggu pikiran, sampai kapan hasil pemilu akan tetap seperti ini ? Sampai kapan harus mual-mual dan muntah karena terpaksa menikmati apa yang sebenarnya sudah ketaun busuk tapi harus ditelan karena tidak ada pilihan lain ? Barangkali tidak semua mual dan muntah. Ada beberapa pihak yang sudah terbiasa, dan tidak menyadari bahwa yang dimakannya busuk, sehingga tetap bisa menikmati apa yang ada. Ada juga yang menyadari kebusukan tersebut, tapi berhubung sudah terlalu banyak uang yang dikeluarkan buat supplier telur busuk itu, sehingga supaya bisa balik modal, tidak ada pilihan lain selain mendukungnya. Lebih parah lagi mungkin ada yang yakin dengan sepenuh hati, bahwa yang busuk itu baik. Self fullfiling prophecy, yang busuk pun merasa bahwa dirinya tidak busuk.
Gusti, moga-moga kondisi seperti sekarang ini suatu saat bisa berubah. Moga-moga cuma saya saja yang terlalu pesimis dengan apa yang ada sekarang. Siapa tau barangkali memang saya aja yang suuzhon, dengan kebusukan mereka yg tidak pernah merasa bahwa mereka sebenernya busuk. Siapa tahu suatu saat nanti, seperti tukang martabak tadi, bangsa ini juga akan bisa berubah dan masyarakatnya mampu mengambil keputusan yang bisa mengubah nasibnya. Tapi sementara ini ya sudah, nikmati dan makan saja dulu apa yang ada, kalo kerasa anyir-anyir sedikit, ya telen aja.
Hallo anak kecil ! Hallo Ayah !! Kamu lagi ngapain ? Lagi nyariin Papa, Papa kemana aja sih ngga pernah keliatan ? Lho kok jadi papa, tadi katanya Ayah ? kamu nyari Papa atau Ayah, emang Papa siapa ? Terserah Nanta dong, kadang pengen manggil Papa, sama Ayah sama aja kan ? |
O ya udah terserah kamu deh, emang kalo sama ibu manggilnya apa ? Manggilnya "Mama" Emang kamu udah bisa nyebut mama ? Sebenernya sih udah Pa, tapi mamanya aja yang ngga mudeng. Abis kamu ngomongnya ngga jelas sih Jelas lagi Pa, cuma orang-orang aja yg pada gak ngerti omongan Nanta. |
Canggih juga kamu ya ? belum bisa ngomong udah bisa chatting begini. Canggih doong, anak siapa dulu ? tapi jangan bilang-bilang mama ya ? Nanti ngga boleh pake internet lagi, mumpung mama lagi tidur nih. Ngomong belum beres aja udah seneng chatting, dasar anak jaman sekarang. Lagian kalo ngomong sambil cegukan sih, seneng ngomel-ngomel sendiri kalo lagi cegukan ya ? he..he..he... Abis cape pa, kalo cegukan ngga berenti-berenti, kan Nanta jadi kesel tendili. Papa dari tadi ditanyain kemana aja kok malah muter ngga ngejawab pertanyaan ? Papa ngga kemana-mana, dari tadi juga disini-sini aja. Disini dimana Pa ? |
Masih di Belanda. Wah jauh amaat .... kok ninggalin Nanta sama Mama disini sih ? Iya ini lagi belajar, biar nanti bisa ngajar lagi, sambil sekalian nabung buat Nanta ama Mama. Belajar mulu ... perasaan dari dulu kata mama kerjaannya belajar ama pelgi-pelgi gratisan ya pa ? Ya mumpung ada yang bayarin, nanti kamu juga kalo udah gede dan ada kesempatan bisa kaya papa gini. Pulang aja deh paaa .... |
Belum bisa sayang, masih lama papa harus disini, kamu aja nanti yang nyusul kesini sama mama yah ? mau gak ? Mau-mau ... di Jakarta panaas, katanya disana dingin yah ? Kamu anak kecil kok tau-tauan ? Katanya mama sih begitu, kadang bilang suka takut kalo nyusul, katanya takut kedinginan. Ah masa mama bilang gitu, nanti disini ada papa kok ngga bakal kedinginan deh. Kamu ngga takut kedinginan ? Ngga papa malah enak kok, ganti suasana. |
Tapi nanti disini ngga ada eyang Kung, eyang Ti serpong, eyang Ti Duren Sawit, tante indah, oom hengky, tante ika, tante rahma, bude Rini, pakde prima ama mas Kiko ? Kan ada papa ? cieee .... (biar papa GR). Rumahnya disini kecil-kecil lho, kaya rumah susun gitu, ngga ada halamannya semua. Ngga papa deh pa, paling nanti kalo mau maen bisa ke taman aja, kan katanya mama, papa bilang disana banyak taman-taman kota ya ? Iya disini lumayan banyak, nanti kalo kamu kesini papa ajak jalan-jalan muter taman, kalo ngga ketaman kamu takut naik perahu ngga ? Ngga pa, emang mau naek perahu kemana ? | |
Muterin kanal-kanal disini, bagus lho Amsterdam, banyak kanal-kanalnya. Kalo ngga nanti dibonceng sepeda deh sama papa, ada boncengan bayi kok disini, di depan sepeda. Asiik, tapi kapan pa ? jalan-jalan kesananya ? Ini lagi diurus ijinnya, orang belanda emang lagi agak rese nih. Ijin tinggal papa aja dari oktober sampe sekarang belum jadi-jadi, mo ngurus ijin kamu sama mama juga jadi susah. Nanti kalo nanta kesana tinggal dimana ? |
Yee itu mah urusan orang tua, kamu nanti ikut aja, pokoknya beres lah. Kata mama papa sekarang tinggalnya deket daerah lampu merah yah ? Lampu merah apaan sih pa ? Heh, mama kok bilang-bilang. Ntar deh diceritain kalo kamu udah gedean. Kapan-kapan kamu bisa tanya Pak De Erwan, sama Mbah Pujo, mereka yang lebih tau daerah ini, papa cuma nggantiin tempat mereka kok, biar bisa ketularan cepet lulus. Belajar ngomong dulu aja yang bener, kecil-kecil kok nanya lampu merah. Pa, mama udah mau bangun, Nanta mesti pura-pura bobok lagi. | |
Ya udah sana gih bobok, jangan lupa berdoa yah ? Berdoa apa pah ? Berdoa biar kamu sama mama bisa cepet nyusul Papa. Beres Pa, nanti kalo udah saatnya bareng, kan bakal bareng lagi. Bener juga kamu anak kecil, sabar aja ya ? bilangin mama juga. Ngga usah bilang kata papa, eh tapi kamu mesti belajar ngomong dulu. Ya udah sana, tidur, nanti kalo udah bangun belajar ngomong lagi yg bener ya ? Ok pa, daaag Deeee ... |
Nemu dokumen yang lama terselip diantara file-file di directory Miscellanuos. Lama ngga pernah inget kalo tulisan ini pernah ada. Setelah diliat-liat kembali apa yang ditulis di bulan Ramadhan, belum lama terpisah dengan istri, pas kebetulan kangen sama istri dan anak yang waktu itu masih ada di dalam kandungan, dan mulai nyadar bahwa ngga lama lagi bakalan jadi bapak, sepertinya tulisan ini lumayan untuk dibaca kembali. Wah sekarang mah sudah jadi bapak beneran, dulu waktu nulis ini belum. Sekarang Ananta udah lahir dengan selamat, udah hampir 4 bulan, tapi masih lama dia baru bisa baca tulisan ini, sekarang mungkin perlu dan lebih baik dibaca buat bapaknya sendiri yang masih kadang bandel.
Ini adalah pesan-pesan yang ditulis oleh seorang ayah yang terpisah jauh dari istri, dan anaknya yang masih ada di dalam kandungan. Tulisan ini berisi harapan-harapan sang Ayah terhadap anaknya, berdasarkan pengalaman, perjalanan, kesalahan, dan pelajaran yang sempat dialami sang Ayah selama hidupnya.
Nak, kamu sekarang masih ada dalam kandungan Ibumu. Tubuhmu baru mulai terbentuk dalam rahim Ibumu, tapi mungkin jiwamu sudah bisa merasakan kehangatan kasih Ibumu disana. Semoga engkau akan terus berkembang dan dapat lahir dengan selamat. Ayahmu sekarang sedang mendengarkan lagu yang dinyanyikan Louis Armstrong. Entah lagu apa, tapi salah satu liriknya berbunyi, "He wants to give a better life to his son". Somehow teringat dengan kamu nak, I will, Ayah juga ingin kamu nanti akan bisa menjalani kehidupan yang lebih baik dari Ayahmu dan Ibumu.
Sejujurnya, sampai sekarang Ayah masih belum tahu bagaimana caranya Ayah bisa memberikan kehidupan yang baik untukmu, karena kehidupan Ayah sendiri pada saat ini masih begini-begini saja. Belum banyak yang bisa Ayah janjikan untukmu. Ayah sendiri masih belum dapat menjadi orang yang baik, masih belum pantas untuk menjadi contoh buat kamu. Tapi ya, tekad itu sudah ada Nak, sejak saat ini, kamu masih dalam kandungan Ibu, Ayah sudah memiliki tekad untuk mengupayakan sebisa mungkin agar perjalanan hidupmu nanti lebih baik dari ayah ibumu.
Seandainya kehidupan yang lebih baik itu tidak bisa Ayah sediakan, Ayah akan mengusahakan agar engkau paling tidak menjadi orang yang lebih baik daripada Ayah. Pengalaman Ayah selama hidup 28 tahun ini, akan Ayah ceritakan padamu suatu saat nanti. Mungkin andai saja dokumen ini masih ada, engkaupun bisa belajar beberapa hal berkaitan dengan kehidupan Ayah dari tulisan ini. Hmm .... saat ini kamu masih dalam kandungan, butuh waktu cukup lama bagimu untuk akhirnya bisa membaca dokumen ini, dan mengerti apa yang tertulis didalamnya. Seandainya kamu sudah bisa membaca pun, mungkin masih sulit bagimu untuk bisa memahami apa yang Ayah tulis disini. Semoga Ayah masih diberi cukup umur oleh Allah SWT untuk membimbingmu secara langsung kelak, tanpa harus melalui tulisan ini.
Kapan yah sebaiknya kamu membaca tulisan ini ? Barangkali paling tidak setelah kamu lulus SMP. Sebelum kamu masuk SMA, ah, Ayah tidak tahu apakah kamu nanti akan memiliki minat untuk membaca tulisan ini atau tidak. Baiklah, itu Ayah pasrahkan saja kepada kamu nanti, sekarang barangkali Ayah akan mulai menyampaikan harapan, bayangan dan doa ayah terhadapmu nak, nanti akan Ayah lengkapi dengan alasan alasan mengapa Ayah mempunyai harapan seperti itu terhadapmu.
Keteguhan/Pendirian
Ayah berharap engkau dapat menjadi orang yang memiliki keyakinan yang kuat, pendirian dan keteguhan hati. Dalam perjalanan hidup selama ini ayah sempat merasakan, bahwa saat pegangan, keyakinan dan keteguhan hati hilang, saat itu perahu kehidupanmu akan terasa seperti kotak kayu tanpa kendali yang terapung di laut, dan setiap saat bisa hancur saat ada ombak yang menghempaskannya ke batu karang. Seburuk apapun lingkungan dimana kamu berada, seaneh apapun yang tingkah laku orang sekitarmu, semua tidak akan mampu mempengaruhimu, jika engkau memiliki keteguhan hati.
Keteguhan terhadap apakah yang harus aku miliki ? mungkin pertanyaan ini akan timbul setelah engkau membaca harapan pertamaku diatas tadi. Keteguhan terhadap apa yang kau anggap baik dan benar. Bagaimana engkau dapat mengetahui manakah hal yang benar ? yang harus engkau percayai dan engkau pegang teguh tadi ? dan bagaimanakah engkau dapat mengetahui manakah hal yang salah yang perlu engkau singkirkan dari hatimu ?
Hati Nurani
Harapan Ayah yang kedua akan memberikan jawaban atas pertanyaan pertama tadi. Harapan Ayah yang kedua adalah engkau selalu menjadi insan yang mampu untuk melihat jauh kedalam lubuk hatimu, dan mendengarkan dari keheningan di dalam sana, suara-suara hati nurani yang padadasarnya dimiliki oleh setiap manusia, yang didalamnya terkandung kebenaran.
Dalam mendengarkan suara-suara hati nuranimu, insya Allah engkau akan menemukan hal-hal yang benar dan baik disana. Seandainya engkau bisa mendengarkan suara-suara tersebut, merasa nyaman dengan suara-suara tersebut harapan Ayah yang berikutnya adalah agar engkau selalu dapat bertindak mengikuti kata hati, keyakinan yang engkau miliki.
Keselarasan tindakan dengan hati
Berhati-hatilah nak, harapan ini sepertinya yang paling berat, dan bisa mempengaruhi kedua harapan tadi. Seandainya engkau mampu mendengarkan suara hati nurani mu, tapi engkau tidak mencoba untuk mengikutinya, dan memilih untuk melakukan tindakan lain yang bertentangan dengan hati nuranimu, jiwamu akan merasa tidak tentram. Akan selalu ada pertentangan batin, pertentangan antara jiwamu yang pada fitrahnya memiliki pancaran cahaya Illahi dengan tindakan-tindakanmu yang engkau lakukan.
Apabila seorang insan terus menerus melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan bisikan hati nuraninya, hatinya akan bergejolak. Hidupnya akan terasa tidak nyaman. Kondisi ini akan dapat terus berlangsung, dan dapat juga pada akhirnya berhenti. Seandainya kelak dalam hidupmu engkau merasakan pergolakan dan pertentangan ini, kemudian sampai pada suatu saat pergolakan jiwamu berhenti, tetap berhati-hatilah nak. Berhentinya pergolakan dalam jiwamu ini juga harus engkau waspadai. Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan engkau tidak lagi merasakan pergolakan dalam jiwamu.
Peperangan dalam Batin
Hal terbaik yang mungkin terjadi adalah ketika akhirnya pergolakan ini berhenti karena engkau telah berhasil untuk menyesuaikan semua tindakan yang engkau lakukan dengan bisikan hati nuranimu. Ketika hawa nafsumu yang mendorong engkau melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nuranimu akhirnya bisa engkau kalahkan, ketika itulah jiwamu berada dalam ketentraman dan ketenangan. Hati nurani mu akan tetap berbisik padamu menyuarakan kebenaran dan kesucian dalam keheningan jiwamu. Bersyukurlah engkau pada Illahi, jika ternyata pergolakan dalam hatimu berakhir dalam kondisi yang demikian.
Sayangnya, hal tersebut diatas ini sangat amat sulit untuk dapat kita capai. Perjuangan untuk mencapai kondisi ini, Ayah tahu tidak mudah. Dan Ayah, yang sampai saat ini pun masih belum berhasil sampai ke tingkat tersebut, hanya berharap semoga akhirnya engkau akan berhasil menyesuaikan tindakan-tindakanmu, dengan hati nuranimu. Sayangnya ujung dari peperangan batin yang dialami oleh kebanyakan manusia seringkali berbeda dengan apa yang telah Ayah ceritakan diatas.
Yang akan terjadi jika engkau tidak mampu mengendalikan tindakanmu, dan nafsu yang mendorongmu melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nurani tersebut tetap mendorongmu bertindak berlawanan dengan hati nuranimu, engkau sedikit demi sedikit akan dapat kehilangan kemampuan untuk mendengarkan hati nuranimu. Hati nuranimu pun letih, dan tidak lagi membisikkan kebenaran padamu. Atau mungkin walaupun masih ada, bisikan itu menjadi semakin lirih dan akhirnya tidak mampu lagi kau dengar, bila engkau terlalu sering mengabaikannya, dan terus melakukan hal yang bertentangan dengan hati nuranimu.
Akhirnya kau hanya melakukan apa yang kau anggap "benar", walaupun "kebenaran" itu tidak lagi bersumber dari hati nuranimu yang jernih, tetapi merupakan kebenaran yang mungkin bersumberkan dari kesalahan yang kau lakukan berulang-ulang, sehingga akhirnya terasa sebagai sesuatu yang benar. Sekali lagi berhati-hatilah dengan hal ini, karena di saat hati nurani letih dan tidak lagi membisikkan kebenaran, kamupun tidak merasakan lagi adanya pergolakan batin. Hal ini adalah hal terburuk yang bisa terjadi, saat tidak ada pergolakan batin, karena hati nuranimu telah terbungkam.
Baiklah sekarang sejenak kita lihat kembali harapan yang sudah Ayah sebutkan. Ayah berharap engkau menjadi orang yang teguh dengan pendirian mu, mampu mendengarkan suara hati nuranimu, mampu menjaga tindakan dan hawa nafsumu untuk selalu menyesuaikan diri dengan hati nuranimu, sehingga engkau memiliki ketenangan jiwa. Ayah berharap dan berdoa agar engkau selalu bisa memenangkan pertarungan tiada akhir antara dirimu-hati nuranimu dengan hawa nafsumu, dan memenangkan hati nuranimu. Ini lah hal-hal terpenting yang ingin Ayah sampaikan.
Jangan Putus Asa
Apa yang Ayah sampaikan diatas adalah harapan yang didambakan dapat tercapai, walaupun masih belum dapat dicapai oleh Ayah sendiri. Memang sekali lagi semua ini tidaklah mudah. Ada saat-saat dalam hidup Ayah, dimana sang hati nurani hanya bisa menangis lirih di dalam jiwa tanpa mampu mengubah dan memperbaiki perilaku. Ini adalah saat-saat yang sulit untuk dihindari, dan akan bisa kita alami sebagai manusia biasa.
Seandainya kau mengalami saat-saat seperti ini kelak, ayah berpesan, jangan pernah berputus asa dan menyerah pada keadaan. Tetaplah yakin bahwa manusia sebenarnya tercipta dalam kondisi yang sempurna, sebagai manusia yang taqwa. Bisikan kebaikan, dan bisikan kearah yang tidak baik selalu datang silih berganti.
Jangan identikkan dirimu dengan kesalahan yang sudah engkau perbuat, karena semua itu terjadi hanya ketika kamu kehilangan kesadaran, keyakinan, serta hubungan dengan hati nuranimu. Jangan hukum dirimu dengan melakukan kesalahan yang sama. Pada saat Ayah merasa telah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan oleh Ayah sendiri, kadang Ayah merasa sangat kotor, malu dan tidak sanggup untuk berhadapan dengan-Nya. Sikap seperti ini setelah direnungkan kembali, hanya akan membawa kita semakin jauh dari Nya.
Dia yang maha Pengampun dan paling memahami hambanya yang diciptakan olehnya, memahami kelemahan dan kekurangan kita. Dia akan tetap selalu membuka peluang untuk perbaikan diri, asal engkau tidak menjauhi peluang itu. Jangan merasa malu untuk bersimpuh dihadapannya Nya dan memohon ampun. Jaga kepercayaan bahwa engkau akan mampu memperbaiki diri, karena fitrah kebaikan ada dalam diri tiap manusia. "Dia" yang maha memberi petunjuk tidak pernah menyukai orang yang berputus asa terhadap petunjuk dan karunianya.
Petunjuk yang Hakiki
Kenapa Ayah tidak banyak mengutip tentang agama dan hubungan dengan Illahi ? Ayah yakin, seandainya engkau mendengarkan dengan jernih, jauh kedalam lubuk hatimu, engkau akan merasakan getaran dan keberadaan Illahi, karena fitrah manusia memanglah demikian adanya. Ayah serahkan padamu, untuk menemukan sendiri getaran ini. Dalam pendidikanmu di rumah dan disekolah kelak, engkau akan dibiasakan dengan rutinitas dan kegiatan beragama. Jangan berhenti sampai disitu, tapi cobalah menengok lebih jauh kedalam hatimu.
Renungkanlah kembali semua yang engkau peroleh tentang hubungan vertikal manusia dengan yang diatas sana. Rasakan sendiri keberadaan Illahi, karena hal ini tidak mungkin bisa diajarkan. Pengakuan bahwa engkau adalah hamba Illahi dengan fitrah yang mengandung pancaran Illahi, akan dapat engkau rasakan sendiri dari dalam jiwamu. Tidak hanya dengan menjalankan ritual, dan memakai label-label keagamaan, tapi dengan merenungkan kembali semua itu. Akan kau temukan sendiri kelak ayat-ayat dalam Al Qur'an yang menganjurkan engkau untuk selalu merenungkan dan memikirkan kekuasaan Illahi.
Pesan-pesan Ayah ini hanyalah lampiran yang tidak ada artinya dibandingkan dengan pegangan yang bersumber dari yang maha memberikan petunjuk dan sumber dari semua cahaya, yaitu Illahi Robbi sendiri, yang ada dalam Al Qur'an dan hadist. Pengetahuan Ayah tentang pegangan ini juga sangat minim nak, semoga engkau dapat menggali sendiri kelak, dan menjadi lebih baik dari Ayah.
Mungkin itu dulu yah nak, Ayah sudah letih dan mulai khawatir dengan semua yang sudah Ayah tulis ini. Kekhawatiran ini timbul karena telah dinyatakan bahwa sesungguhnya sangat besar kemarahan-Nya, pada orang yang mengatakan hal-hal yang tidak dia kerjakan. Percuma semua ini Ayah tulis jika kelak Ayah tidak bisa menunjukkan padamu bahwa Ayah sudah berusaha untuk mewujudkan apa yang Ayah tulis dan pesankan.
Pesan-pesan ini nak, kuharap juga akan sangat bermanfaat bagi diriku sendiri. Sebisa mungkin, karena Ayah yang memberikan pesan ini padamu, Ayah akan mencoba terlebih dulu untuk menjalaninya. Yang sungguh, sampai saat ini masih terasa sangat berat untuk Ayah. Semoga yang diatas sana memberikan kejernihan batin bagi Ayah untuk mendengarkan suara hati nurani Ayah, dan masih memberikan pancaran-Nya untuk menuntun langkah-langkah Ayah dimasa yang akan datang. Ayah sayang padamu nak, dan Ayah sangat berharap agar engkau kelak dapat menjadi insan yang lebih baik dari Ayah.
Ayahmu yang mencintaimu.
You are viewing
amsterdamjunky's journal