| The Amsterdam Junky ( @ 2004-03-21 14:54:00 |
Manusia Jawa Tanpa Ciri
Kelurahan koestraat 34 amsterdam sepi karena warga masih sibuk dengan urusan masing-masing. Barangkali juga karena sekarang sudah tidak adalagi pak lurah Erwan yang bisa menjamin adanya makanan yang enak di akhir pekan, ndak seperti pak Carik sekarang yang menguasai Koestraat ini.
Anyway peninggalan lurah Erwan Poerwanto menjadi temen melewati malam minggu ini. Tulisan pak Darmanto Jatman tentang ajaran psikologi jawanya Kyai Ageng Suryomentaram. Wah, bagus ternyata, barangkali ini kunci ajaran yang selama ini diterapkan pak Lurah semasa dia menjabat di Amsterdam :D.
Tulisan psikologi jawanya ini ilmiah, merembet dan membahas kemana-mana karena beliau ini memang pakar psikologi di Undip, tadinya di UGM. Psikoanalitiknya Freud, behaviourism nya entah siapa gue lupa, terus Maslow kebawa-bawa. Dan yang terakhir dia pake sebagai pembanding dan analogi yang paling mirip dengan ajarannya Kyai Suryomentaram.
Sayang aku bukan bener-bener psikolog yang ngerti cerita dan latar belakang dari pemikiran tokoh-tokoh psikologi barat, sehingga tulisan pak Darmanto ini agak berat, bener-bener seperti thesis psikologi. Banyak banget referensi dan bahasan latar belakang pemikiran orang-orang itu, tapi aku malah jadi tambah ngga mudeng.
Apa yang pengen dicapai Maslow sama pak kiai walaupun beda, ada kesamaan. Kalo si maslow katanya pengen mencapai manusia kreatif yang independent, pak Kyai SM bilang ujung-ujungnya setelah memahami psikologi jawa ini orang mestinya bisa jadi "manusia tanpa ciri". Mbuh jan-jane iki karepe opo, tapi kurang lebih, manusia ini udah tidak terikat sama catatan pengalaman-pengalaman hidup dia, udah bisa melihat dari luar dirinya sendiri "rasa", keinginan-keinginan dia dan menyadari sebab-sebab dari semua dorongan yang dia miliki, tanpa terikat dengan keinginan-keinginan itu.
Dia ngomong bahwa untuk bisa sampai ke tingkat manusia tanpa ciri ini butuh kemampuan mawas diri. Mengolah semua pengalaman fisik dengan dunia luar, dan melihat kedalam jiwa dan apa yang sudah dialami selama ini. Mawas diri ini katanya jadi jalan untuk menuju kebahagiaan hidup.
Dia bilang katanya orang mestinya apa-apa itu ya : Sabutuhe, saperlune, sacukupe, sakepenake, samestine, sabenere (= sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, seenaknya, seharusnya, sebenarnya). Rasanya dia sempet bilang bahwa di dunia ini ngga ada hal yang bener-bener perlu dikejar sampe orang harus ngaya-aya (ngotot-ngeyel-obsessed).
Somehow dulu pernah sekilas ngebaca Awareness nya de Mello, The Seat of The Soul nya mantan fisikawan yg jadi penulis namanya siapa itu gue lupa juga, atau penjelasan dan transliterasi dari Bagawad Gita nya siapa ya yang ngarang lagi-lagi lupa, semua bacaan-bacaan yang cuma dibaca sekilas, oleh org yang tertarik untuk memahami masalah jiwa tapi ngga pernah bener-bener mudeng ini, tulisan-tulisan ini kerasa banyak kesamaannya.
Manusia tanpa ciri nya pak Kyai ini, jiwa yang tidak terpengaruh apa-apanya Bagawad Gita itu barangkali kurang lebih sama idenya. Ada sesuatu, sesuatu dalam diri tiap manusia yang sebenarnya serba baik dan tidak terpengaruh dengan apa yang ada di sekitarnya. Bahkan kalo di Bagawad Gita itu jiwa bener-bener tidak bakalan ancur oleh perang baratayuda ataupun kematian.
Rasanya bolak-balik pak Kyai ini sempet bilang bahwa ketika kita retrospeksi dan melihat kebelakang hal-hal yang sudah kita lakukan dan kita rasakan bahwa itu sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diingini oleh jiwa atau "manusia tanpa ciri" di dalam kita, org yang menganut ajaran ini akan bilang "iku dudu aku", dan ketika kita melihat org lain melakukan hal yang sebenarnya kita percaya bukan merupakan dorongan dari "jiwa" baik di dalam dirinya, kita bilang "iku dudu kowe".
It wasn't me, kalo kata org item yg nyanyi rap, sopo to yo, aku kok lali meneh. Melihat kebelakang semua kebandelan, kesalahan, kebodohan dan kekurangajaran yang pernah dibuat selama hidup, kadang pengen juga bisa bilang begitu. Mencoba memahami bahwa sebenarnya, pada saat itu ya itu "aku", "yang sedang begitu", pada "suasana dan kondisi yang seperti itu", tapi itu bukan "aku" yang sejatine.
Rasanya bisa dimengerti kenapa para tokoh-tokoh pemikir ini memutuskan untuk bikin suatu higher-self yang baik itu. Barangkali supaya ngga frustasi. Supaya orang kalo sudah berbuat kesalahan itu tidak perlu mengidentifikasikan dirinya dengan kesalahan yang pernah dia buat, tidak perlu terus-menerus menyesali dan khawatir bahwa dirinya memang sudah ditakdirkan untuk berbuat salah.
Sehingga orang akhirnya bisa bangkit lagi, bisa percaya ada sisi baik dalam diri setiap orang, dan apa yang kita lakukan selama ini sebenernya belum tentu merupakan "diri" kita yang sejati. Bahwa fa'alhamaha fujuroha wa taqwaha, memang selalu ada bisikan jelek dan baik yang sampai ke seseorang.
Kalo orang terus-terusan mengidentikkan diri dengan kesalahannya .. sekali terpuruk, makin terpuruk. Sekali mabok makin mabok, dan sekali bandel makin bandel. Tapi kalo orang juga mengidentifikasikan diri dengan semua achievement yang dia udah pernah capai, bisa juga malah jadi sombong, takabur dan tidak bisa mawas diri lagi.
Ya sudahlah, sudah kebanyakan nulis ngga jelas, nasibnya yg nyasar kesini (atau udah disasarkan kesini) dan ngebaca. Skrg mau ngapain ? Belanja kali yeee .... kelurahan sudah rawan pangan.
Kelurahan koestraat 34 amsterdam sepi karena warga masih sibuk dengan urusan masing-masing. Barangkali juga karena sekarang sudah tidak adalagi pak lurah Erwan yang bisa menjamin adanya makanan yang enak di akhir pekan, ndak seperti pak Carik sekarang yang menguasai Koestraat ini.
Anyway peninggalan lurah Erwan Poerwanto menjadi temen melewati malam minggu ini. Tulisan pak Darmanto Jatman tentang ajaran psikologi jawanya Kyai Ageng Suryomentaram. Wah, bagus ternyata, barangkali ini kunci ajaran yang selama ini diterapkan pak Lurah semasa dia menjabat di Amsterdam :D.
Tulisan psikologi jawanya ini ilmiah, merembet dan membahas kemana-mana karena beliau ini memang pakar psikologi di Undip, tadinya di UGM. Psikoanalitiknya Freud, behaviourism nya entah siapa gue lupa, terus Maslow kebawa-bawa. Dan yang terakhir dia pake sebagai pembanding dan analogi yang paling mirip dengan ajarannya Kyai Suryomentaram.
Sayang aku bukan bener-bener psikolog yang ngerti cerita dan latar belakang dari pemikiran tokoh-tokoh psikologi barat, sehingga tulisan pak Darmanto ini agak berat, bener-bener seperti thesis psikologi. Banyak banget referensi dan bahasan latar belakang pemikiran orang-orang itu, tapi aku malah jadi tambah ngga mudeng.
Apa yang pengen dicapai Maslow sama pak kiai walaupun beda, ada kesamaan. Kalo si maslow katanya pengen mencapai manusia kreatif yang independent, pak Kyai SM bilang ujung-ujungnya setelah memahami psikologi jawa ini orang mestinya bisa jadi "manusia tanpa ciri". Mbuh jan-jane iki karepe opo, tapi kurang lebih, manusia ini udah tidak terikat sama catatan pengalaman-pengalaman hidup dia, udah bisa melihat dari luar dirinya sendiri "rasa", keinginan-keinginan dia dan menyadari sebab-sebab dari semua dorongan yang dia miliki, tanpa terikat dengan keinginan-keinginan itu.
Dia ngomong bahwa untuk bisa sampai ke tingkat manusia tanpa ciri ini butuh kemampuan mawas diri. Mengolah semua pengalaman fisik dengan dunia luar, dan melihat kedalam jiwa dan apa yang sudah dialami selama ini. Mawas diri ini katanya jadi jalan untuk menuju kebahagiaan hidup.
Dia bilang katanya orang mestinya apa-apa itu ya : Sabutuhe, saperlune, sacukupe, sakepenake, samestine, sabenere (= sebutuhnya, seperlunya, secukupnya, seenaknya, seharusnya, sebenarnya). Rasanya dia sempet bilang bahwa di dunia ini ngga ada hal yang bener-bener perlu dikejar sampe orang harus ngaya-aya (ngotot-ngeyel-obsessed).
Somehow dulu pernah sekilas ngebaca Awareness nya de Mello, The Seat of The Soul nya mantan fisikawan yg jadi penulis namanya siapa itu gue lupa juga, atau penjelasan dan transliterasi dari Bagawad Gita nya siapa ya yang ngarang lagi-lagi lupa, semua bacaan-bacaan yang cuma dibaca sekilas, oleh org yang tertarik untuk memahami masalah jiwa tapi ngga pernah bener-bener mudeng ini, tulisan-tulisan ini kerasa banyak kesamaannya.
Manusia tanpa ciri nya pak Kyai ini, jiwa yang tidak terpengaruh apa-apanya Bagawad Gita itu barangkali kurang lebih sama idenya. Ada sesuatu, sesuatu dalam diri tiap manusia yang sebenarnya serba baik dan tidak terpengaruh dengan apa yang ada di sekitarnya. Bahkan kalo di Bagawad Gita itu jiwa bener-bener tidak bakalan ancur oleh perang baratayuda ataupun kematian.
Rasanya bolak-balik pak Kyai ini sempet bilang bahwa ketika kita retrospeksi dan melihat kebelakang hal-hal yang sudah kita lakukan dan kita rasakan bahwa itu sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diingini oleh jiwa atau "manusia tanpa ciri" di dalam kita, org yang menganut ajaran ini akan bilang "iku dudu aku", dan ketika kita melihat org lain melakukan hal yang sebenarnya kita percaya bukan merupakan dorongan dari "jiwa" baik di dalam dirinya, kita bilang "iku dudu kowe".
It wasn't me, kalo kata org item yg nyanyi rap, sopo to yo, aku kok lali meneh. Melihat kebelakang semua kebandelan, kesalahan, kebodohan dan kekurangajaran yang pernah dibuat selama hidup, kadang pengen juga bisa bilang begitu. Mencoba memahami bahwa sebenarnya, pada saat itu ya itu "aku", "yang sedang begitu", pada "suasana dan kondisi yang seperti itu", tapi itu bukan "aku" yang sejatine.
Rasanya bisa dimengerti kenapa para tokoh-tokoh pemikir ini memutuskan untuk bikin suatu higher-self yang baik itu. Barangkali supaya ngga frustasi. Supaya orang kalo sudah berbuat kesalahan itu tidak perlu mengidentifikasikan dirinya dengan kesalahan yang pernah dia buat, tidak perlu terus-menerus menyesali dan khawatir bahwa dirinya memang sudah ditakdirkan untuk berbuat salah.
Sehingga orang akhirnya bisa bangkit lagi, bisa percaya ada sisi baik dalam diri setiap orang, dan apa yang kita lakukan selama ini sebenernya belum tentu merupakan "diri" kita yang sejati. Bahwa fa'alhamaha fujuroha wa taqwaha, memang selalu ada bisikan jelek dan baik yang sampai ke seseorang.
Kalo orang terus-terusan mengidentikkan diri dengan kesalahannya .. sekali terpuruk, makin terpuruk. Sekali mabok makin mabok, dan sekali bandel makin bandel. Tapi kalo orang juga mengidentifikasikan diri dengan semua achievement yang dia udah pernah capai, bisa juga malah jadi sombong, takabur dan tidak bisa mawas diri lagi.
Ya sudahlah, sudah kebanyakan nulis ngga jelas, nasibnya yg nyasar kesini (atau udah disasarkan kesini) dan ngebaca. Skrg mau ngapain ? Belanja kali yeee .... kelurahan sudah rawan pangan.