| The Amsterdam Junky ( @ 2004-04-10 04:05:00 |
Ini nasib orang yang ngga meriksa tanggalan dan ngga nyadar kalo liburan paskah sekarang berarti long weekend, Jum'at libur dan senen libur. Jum'at, Sabtu, Minggu, Senen libur dan saya baru nyadar hari kamis, pas ditanya sama pak Adam, besok mau ngapain, lho heh emang ngapain ? besok libur .. ooo ....
Akhirnya karena ngga punya rencana apa-apa ya jadinya gak jelas begini. Untung mas Anis masih menampung refugee, saya masih boleh dateng kerumahnya, menikmati gulai nangka dan ADSL nya yang 24 jam. Jadi bisa menghibur diri, dan meliat-liat apa yang terjadi lewat internet.
Saat nulis sekarang ini sudah 64 juta suara dihitung oleh KPU. Empat peringkat atas masih didominasi partai lama yang mungkin memang sudah punya fixed voters, atau mungkin punya basis massa tradisional. Yang agak menghibur adalah peringkat 5 s/d 7, Demokrat, PKS, dan PAN. Masing-masing dapet suara sekitar 4 juta an, dengan presentase antara 6 sampai 7 persen, jadi kalo bertiga digabung kira-kira 20%. Sementara peringkat 8-10 baru dapet suara 2% an, pak Yusril, pak Kyai Z. MZ, sama mbak Tutut. Mungkin akhirnya tiga partai yg disebut belakangan ini bisa memenuhi batas 3 persen.
Sepertinya peta peringkat sekarang ini sudah bisa memberikan gambaran hasil akhir. Barangkali tidak akan ada banyak perubahan posisi, sebenernya beberapa hari terakhir peringkatnya ya begini-begini saja. Ada juga sih yg berubah, itu PIB tadinya no 24 jadi no 23 sekarang, pak Syahrir masih tidak laku ternyata. Lihat hasil gini kok pengen banget rasanya 4 partai di peringkat pertama itu dianggap tidak ada, dan dilupakan dulu saja. Sepertinya partai-partai lama dan besar ini masih membawa trauma masa lalu.
Pengennya kondisi bangsa yang memprihatinkan saat ini segera berakhir. Dengan masih dominannya empat partai besar yang basis masanya memang udah terbangun sejak jaman orde baru, sejak zaman kegelapan, harapan untuk berakhirnya kondisi yg memprihatinkan menjadi terasa sangat jauh dari kenyataan. Hiks.
Pengennya bangsa Indonesia udah melangkah ke masa depan, tidak stuck dengan apa yang sudah ada sekarang, dan jadi bangsa yang maju dan punya martabat. Martabat spesial deh jangan martabat telor setengah mateng yang telornya sudah busuk. Mulai ngga jelas ini tulisan, excusenya karena sekarang udah jam 3.26 am waktu Jan Pieter Huystraat, rumah mas Anis. Mungkin jam livejournal ini nanti bakalan ngaco. Tapi kalo diterusin besok-besok biasanya udah males untuk nulis lagi.
Ya itu, berhubung sekarang laper, dan udah lama ngga makan martabak, saya jadi pengen makan martabak spesial, yang ada di depan stasiun kereta api Bandung. Masih belum ada duanya. Lho kok jadi kesana, tadi nulis apa ? martabat bangsa. Iya, gimana mau membangun bangsa yang bermartabat kalau bahan bakunya sudah punya riwayat yang buruk ? sama seperti berusaha membuat martabak spesial dengan bahan-bahan yang sudah busuk tadi.
Bayangin betapa frustasi dan sedihnya tukang martabak di depan stasiun kereta Bandung tadi, kalo dia harus bikin martabak spesial dari bahan-bahan yang udah ketauan busuk. Gimana dia bisa berharap martabaknya akan jadi sesuatu yang spesial ? mana mungkin martabaknya laku dan membuat saya kangen dengan bahan baku seperti itu ? Kalo tiap kali mau jualan, dia disupply dengan bahan-bahan busuk, mungkin dia lama-lama akan berhenti jadi tukang martabak. Ganti profesi aja jadi tukang sampah atau pemulung.
Harusnya dia berusaha untuk mencari bahan-bahan yang tidak busuk. Ganti supplier, ganti partai yang bisa menyediakan telur yang lebih bersih. Tapi untuk bisa sampai pada keputusan dramatis yang akan mengubah jalan hidup tukang martabak ini, dia harus menyadari dulu bahwa telur-telur tadi busuk. Membuat tukang martabak sadar dan bisa membedakan mana telur busuk mana telur yang tidak busuk, memang jauh lebih mudah daripada membuat "pemilih tetap", "pemilih fanatik" yang tanpa berpikir lagi, punya pilihan yang tetap sama selama puluhan tahun, berubah pikiran.
Ini jadi pertanyaan yang sangat mengganggu pikiran, sampai kapan hasil pemilu akan tetap seperti ini ? Sampai kapan harus mual-mual dan muntah karena terpaksa menikmati apa yang sebenarnya sudah ketaun busuk tapi harus ditelan karena tidak ada pilihan lain ? Barangkali tidak semua mual dan muntah. Ada beberapa pihak yang sudah terbiasa, dan tidak menyadari bahwa yang dimakannya busuk, sehingga tetap bisa menikmati apa yang ada. Ada juga yang menyadari kebusukan tersebut, tapi berhubung sudah terlalu banyak uang yang dikeluarkan buat supplier telur busuk itu, sehingga supaya bisa balik modal, tidak ada pilihan lain selain mendukungnya. Lebih parah lagi mungkin ada yang yakin dengan sepenuh hati, bahwa yang busuk itu baik. Self fullfiling prophecy, yang busuk pun merasa bahwa dirinya tidak busuk.
Gusti, moga-moga kondisi seperti sekarang ini suatu saat bisa berubah. Moga-moga cuma saya saja yang terlalu pesimis dengan apa yang ada sekarang. Siapa tau barangkali memang saya aja yang suuzhon, dengan kebusukan mereka yg tidak pernah merasa bahwa mereka sebenernya busuk. Siapa tahu suatu saat nanti, seperti tukang martabak tadi, bangsa ini juga akan bisa berubah dan masyarakatnya mampu mengambil keputusan yang bisa mengubah nasibnya. Tapi sementara ini ya sudah, nikmati dan makan saja dulu apa yang ada, kalo kerasa anyir-anyir sedikit, ya telen aja.